Kawan, pernahkah kamu nonton dua kali untuk satu pilem yang sama di bioskop? Mungkin pernah, dan ada beberapa alasan atasnya. Mungkin kamu salah beli tiket, diajak temen, atau emang suka banget ma pilem tersebut. Nah, alasanku nonton pilem The Matrix: Reloaded sampai dua kali di bioskop (dan entah tak terhitung berapa kali di DVD dan di TV) adalah karena alasan ketiga: suka banget, sejak pilem The Matrix pertama malah. Emh, aku punya hal menarik yang ingin kubagi denganmu di pilem The Matrix (Nonton dulu kalo blum pernah nonton, ya. FYI pilem ini diproduseri oleh Wachozsky Brothers, sama kaya yang memproduseri pilem Ninja Assasins, tapi The Matrix jauuuh lebih keren).
Pada satu adegan, Morpheus (kapten Nebuchadnezzar, diperankan oleh Laurence Fishburne) memberi tau Neo (diperankan Keanu Reeves) bahwa selama ini mereka besembunyi dari para ‘Agen’ yang menguasai The Matrix. Dia bercerita ada ramalan bahwa suatu ketika akan muncul sosok ‘The One’ –yang diyakini Morpheus bahwa sosok The One tersebut adalah Neo– yang dapat mengalahkan semua Agen dan membebaskan umat manusia dari ‘penjara’ Matrix.
Morpheus berkata, “I won’t lie to you, Neo. Every single man or woman who has stood their ground, everyone who has fought an agent has died… I’ve seen an agent punch through a concrete wall. Men have emptied entire clips at them and hit nothing but air. Yet their strength and their speed are still based in a world that is built on rules. Because of that, they will never be as strong or as fast as you can be.”
“What are you trying to tell me? That I can dodge bullets?” Tanya Neo
Morpheus menjawab, “No, Neo. I’m trying to tell you that when you’re ready, you won’t have to.”

Oh, yeah. I do stop the bullet.
Hmm, cukup geje juga kata-kata Morpheus, “Ketika kamu udah siap, bahkan kamu ga perlu menghindari peluru..” Apa pula maksudnya ini? Hingga pada akhir pilem, ketika Neo nyaris mati ditembak para Agen, dia ingat pada perkataan Trinity (diperankan Carrie Ann Moss) bahwa ramalan memberitahu bahwa Trinity akan jatuh cinta pada The One. Karena Trinity jatuh cinta pada Neo, Neo berpikir bahwa dialah The One. Karena dia The One, maka dia ga akan mati ‘hanya’ oleh tembakan seperti itu. Karena dia The One, maka ‘hukum alam’ yang terprogram untuk mengatur The Matrix tidak berlaku untuknya. Dia menyadari hal tersebut, selanjutnya ketika para Agen menembaki dia, dia dapat menghentikan peluru-peluru tersebut dengan kekuatan pikirannya. Para Agen pun akhirnya dapat dia kalahkan dengan mudah. Waaa..
Nah, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian, inilah yang disebut sebagai QUANTUM LEAP, suatu lompatan yang mendadak dan kentara dari suatu keadaan ke keadaan lain. Di awal cerita, Neo sama sekali tidak percaya bahwa dia dapat menghindari peluru, tapi kemudian -jangankan menghindari- lha wong dia malah bisa menghentikan peluru dengan kekuatannya. Ada beberapa tahapan untuk mencapai level tersebut, tapi semuanya baru nampak dalam sebuah quantum leap. Ketika dia uda sampe ke level tersebut, dia tidak kemudian ‘turun’ ke keadaan awalnya.
OK, contoh diatas emang cukup lebay, secara dari pilem gitu loh. Mari kita ambil contoh quantum leap dalam dunia nyata:
Mari kita masuk ke laci meja belajar dan kembali ke tahun 1991.. Emh, bukan Perang Teluk yang akan kita bahas.. Pada hari itu, entah keberapa kalinya aku belajar naik sepeda, aku gagal sebanyak aku mencoba. Bagiku ketika itu, bisa menguasai kendaraan roda dua, menjaga keseimbangan, dan melaju dengan mulus adalah hal yang sangat keren –sekaligus mustahil. Tentu, aku belum bisa membedakan antara ‘sulit’ dan ‘mustahil’. Maksudku, tingkat kemustahilanku untuk bisa naik sepeda ketika itu adalah sama dengan tamasya terbang ke bulan dilanjutkan dengan menikmati musim semi di Jupiter dan Mars. Mustahil, kan? Makanya pada satu titik, aku menyerah. Menghentikan latihanku.
Yang tidak kuperhitungkan ketika itu adalah QUANTUM LEAP.
Karena melihat teman-temanku pada bisa naik sepeda roda dua dan main kesana kemari, aku jadi iri pada mereka. Demi Tuhan, dimataku mereka keren banget, dan sangat ga mungkin aku maen sepeda-sepedaan bareng mereka dengan mengendarai sepeda roda tiga –yang tanpa banyak cingcong kita pasti sepakat bahwa sepeda roda tiga sangatlah jauh dari definisi keren. Aku pun memutuskan untuk latihan lagi. Dibantu oleh Bapakku yang memegangi sepeda dari belakang, aku mengendarai sepeda. Ketika dipegangi, aku merasa aman dan ga takut jatuh. Hingga pada satu ketika, aku tanya suatu hal ke Bapak.. Loh ko ga dijawab? Ko sepertinya ga ada Bapak dibelakang? Ternyata bapakku melepaskan pegangannya, tanpa sepengetahuanku! Dengan kata lain: hey, aku naik sepeda tanpa dipegangin! Dengan kata lain: horeeee, aku bisa naik sepeda!
Quantum leap terjadi pada keadaan mental, bukan fisik. Hey, kamu ga bisa tiba-tiba mengangkat rumah, atau menahan napas selama setengah jam, atau berlari dengan kecepatan 100 km/jam, kan? Karena tubuhmu tunduk pada hukum-hukum alam yang berlaku. Karenanya, tubuhmu ga akan secepat atau sekuat pikiranmu.
Naik sepeda memang nampak sebagai aktivitas fisik, tapi sebenarnya yang lebih dominan dalam kegiatan ini adalah kemampuan mental daripada kemampuan fisik. Aku tidak menambah kekuatan kakiku mengayuh pedal atau akurasi tanganku ketika membelokkan setang. Tapi lebih seperti, aku memutuskan untuk belajar naik sepeda, seperti meng-klik saklar ON di otakku untuk bisa naik sepeda. Begitu aku akhirnya bisa naik sepeda, aku bahkan lupa alasan kenapa sebelumnya aku ga bisa naik sepeda.
Mungkin kita semua tanpa sadar juga mengalami quantum leap. Sejak bayi, ketika mulai belajar berjalan, atau ketika pertama kali masuk kuliah, atau pertama kali masuk koas. Banyak quantum leap yang terjadi secara alami. Bayi belajar berjalan karena instingnya seperti itu, dan mereka belum punya kenangan bahwa jatuh itu sakit, makanya belajar jalan aja ya tinggal jalan. Pas masuk koas, kita ya masuk koas aja, karena kaya’nya make jas putih itu keren (walaupun menderita). Dengan semua alasan, dari yang paling rasional sampe yang paling absurd, quantum leap terjadi.
Tapi tidak semua quantum leap terjadi begitu saja. Kalo pas kamu belajar jalan ato masuk koas, mungkin porsi yang berperan lebih besar adalah hal-hal alamiah dan anggapan wajar bahwa bayi itu ‘harus’ belajar jalan dan mahasiswa kedokteran itu ‘harus’ koas. Tapi pada beberapa hal lain, saklar ON quantum leap tersebut harus kamu klik sendiri. Hal-hal seperti: menjadi percaya diri, bertingkah laku baik, rajin menabung, berpola hidup sehat, sholat berjamaah di masjid, dan sebagainya. Pertanyaannya: bagaimana kamu secara sengaja bisa meng-klik saklar ON tersebut?
Yang harus disadari adalah bahwa perkembangan secara mental pribadi seseorang terjadi dalam suatu quantum leap. Mungkin kamu sudah berusaha untuk merubah atau memulai suatu hal tapi tidak nampak hasilnya. Itu tidak berarti bahwa usahamu tidak menghasilkan suatu peningkatan. Sesuatu sedang terjadi di otakmu, berupa penambahan sinaps-sinaps antara satu neuron dengan neuron yang lain; hanya saja hal tersebut belum termanifestasi secara nyata di dunia fisik. Pada titik tertentu usaha tersebut akan menghasilkan suatu klik ON pada saklar di otakmu dan kamu dapat melakukan suatu quantum leap. Ketika kamu sudah mencapai tahap itu, kamu mungkin akan merasakan bahwa proses klik tersebut relatif singkat –dan seolah tiba-tiba– dibandingkan dengan keseluruhan proses usahamu; tapi tanpa usahamu yang lama, konsisten, dan berdarah-darah (halah lebay) tersebut, momentum untuk meng-klik ON quantum leap tidak akan ada.
Perhatikan juga ini:
Pada suhu 99˚C air terasa panas
Pada suhu 100˚C air mendidih.
Didihan air menghasilkan uap.
Dengan uap, kamu dapat menggerakkan sebuah kereta api.
Hey, satu derajat aja bisa membuat perbedaan yang sangat besar!
Jadi jangan menyerah ketika usahamu nampaknya tidak membuahkan hasil. Coba aja terus. Mungkin batas antara kita dengan quantum leap hanya satu derajat, atau bahkan kurang.
Sahabat kita, Arai Sang Pemimpi tau betul konsep ini. Karenanya dia hanya memberikan opsi ‘tidak’ untuk menyerah dalam mendapatkan cinta Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum, sosok yang seumur hidup dia yakini sebagai bidadari jelmaan os costae-nya. Seperti yang dituturkan pada Ikal di novel Sang Pemimpi halaman 188:
“Nurmala adalah tembok yang kukuh Kal…,” kilahnya diplomatis.
“Dan usahaku ibarat melempar lumpur ke tembok itu,” sambungnya optimis.
“Kau sangka tembok itu akan roboh dengan lemparan lumpur?” tanyanya retoris.
“Tidak akan! Tapi lumpur itu akan membekas disana. Apapun yang kulakukan, walaupun ditolaknya mentah-mentah, akan membekas dihatinya,” kesimpulannya filosofis.
Di novel Maryamah Karpov, kita semua akhirnya tau bahwa quantum leap itu memang terjadi: bidadari indifferent itu akhirnya membukakan pintu hatinya untuk Arai dan menerima lamarannya. Waktu yang dibutuhkan Arai hingga quantum leap ajaib itu terjadi: TUJUH tahun.