Archive

Archive for May, 2010

When I See You Smile

Wajah bapak muda itu tegang. Tangannya tremor ketika menandatangani informed consent untuk tindakan sectio secaria terhadap istrinya. Ya, kekasih hatinya tersebut telah berupaya sekuat yang dia bisa untuk melahirkan anak pertama mereka. Tapi apa daya, nihil hasilnya. Drip oxytocin 5 I.U. 12 tetes per menit gak mempan. Maka diputuskanlah tindakan SC.

Tak perlu seorang psikolog profesional untuk mengetahui apa yg dirasakan bapak itu; karena sudah sangat jelas terlihat dari air mukanya.

Where the magic happens..

Aku bersama tim dokter pun segera mempersiapkan diri.. Ehm, baiklah ngaku, aku bukan operator utama yang adalah dokter spesialis obsgyn. Cuma koas. Peran di OK adalah asisten dari asisten dari operator utama. ^_^’

Satu jam berlalu. Bayi lahir dengan sehat; bayi perempuan. Ya pokoknya begitu bayi keluar, udah tanggung jawabnya perina lah. Setelah dibersihkan, si adek bayi diserahkan ke ayahnya. Nampak bersama ayahnya, ada wanita yg lebih tua. Neneknya, mungkin.

Kali ini wajah sang bapak muda jauh berbeda dibanding sekitar 70 menit yang lalu. Walau tidak ada perubahan struktur anatomis, kini wajahnya tampak lebih tampan. Jelas karena sudah lega. Plong..

Kemudian, dengan mesra dia membisikkan adzan di telinga kanan si adek dan iqomat di telinga kiri. -afwan untuk hal yang satu ini sebenarnya ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, ada yg menyatakan sunnah, ada yg tidak. Tapi bukan itu pokok bahasan kita. Kalau pengen cari kejelasannya, silakan mencari referensi yg kredibel-

Coba lihat lagi si adek bayi. Sekarang dia senyum-senyum. “Lihat, Bu. Dia senyum padaku!” Kata si bapak kepada sang nenek, yang langsung dibales, “Ah, enggak. Senyumnya ke aku, ko.”

Mungkin ini yang sedang tersenandung di hati sang bapak:
When I see you smile,
I see a ray of light
I see it shining
Right through the rain..

Hihihi.. Bapak ini sedang GR rupanya. Kalau ku katakan yang sebenarnya, bisa jadi dia tidak se sumringah saat ini. Katanya Pak Dokter India yang aku lupa namanya, di bukunya yg judulnya General Ophtalmology yang sampulnya warna putih dan di halaman depannya ada tulisan dgn huruf India yg tak bisa kubaca -tapi yang jelas bacanya bukan ‘kuch kuch hota hai’, atau ‘koi mil gaiya’, apalagi ‘my name is khan’- bahwa bayi yang baru lahir mengalami hipermetropi fisiologis sebesar +5 Dioptri. Jadi sebenarnya, si adek bayi ga bisa lihat bapaknya yang berjarak sekitar 30 cm didepannya dengan jelas. Mungkin secara idiopatik dia senyam-senyum sendiri. Gak usah GR deh, Pak. Hehe, tentu aku cukup bijak untuk tak mengatakannya ke si bapak.

Toh, tidak semua kebenaran harus diungkapkan. Ada beberapa hal yang memang lebih baik ditinggalkan apa adanya. Biarkan si bapak menikmati endorphine surge-nya. Ga usah diganggu dengan fakta yang memang berpotensi agak mengganggu salah satu hari terindah dalan hidupnya ini.

Hmm, bagaimana kalau aku berada diposisi si bapak? Aku akan melakukan hal yang sama; meski aku tau sebenarnya si adek bayi belum bisa melihat jelas, ketika dia senyum tetap aja akan kukatakan pada semua orang di VK:

“Hey, lihat. Putriku tengah senyum karenaku. Cantik kan senyumnya? Persis seperti ibunya.”

Categories: Catatan Tags:

Lompatan Quantum

Kawan, pernahkah kamu nonton dua kali untuk satu pilem yang sama di bioskop? Mungkin pernah, dan ada beberapa alasan atasnya. Mungkin kamu salah beli tiket, diajak temen, atau emang suka banget ma pilem tersebut. Nah, alasanku nonton pilem The Matrix: Reloaded sampai dua kali di bioskop (dan entah tak terhitung berapa kali di DVD dan di TV) adalah karena alasan ketiga: suka banget, sejak pilem The Matrix pertama malah. Emh, aku punya hal menarik yang ingin kubagi denganmu di pilem The Matrix (Nonton dulu kalo blum pernah nonton, ya. FYI pilem ini diproduseri oleh Wachozsky Brothers, sama kaya yang memproduseri pilem Ninja Assasins, tapi The Matrix jauuuh lebih keren).

Pada satu adegan, Morpheus (kapten Nebuchadnezzar, diperankan oleh Laurence Fishburne) memberi tau Neo (diperankan Keanu Reeves) bahwa selama ini mereka besembunyi dari para ‘Agen’ yang menguasai The Matrix. Dia bercerita ada ramalan bahwa suatu ketika akan muncul sosok ‘The One’ –yang diyakini Morpheus bahwa sosok The One tersebut adalah Neo– yang dapat mengalahkan semua Agen dan membebaskan umat manusia dari ‘penjara’ Matrix.

Morpheus berkata, “I won’t lie to you, Neo. Every single man or woman who has stood their ground, everyone who has fought an agent has died… I’ve seen an agent punch through a concrete wall. Men have emptied entire clips at them and hit nothing but air. Yet their strength and their speed are still based in a world that is built on rules. Because of that, they will never be as strong or as fast as you can be.”

“What are you trying to tell me? That I can dodge bullets?” Tanya Neo

Morpheus menjawab, “No, Neo. I’m trying to tell you that when you’re ready, you won’t have to.”

Oh, yeah. I do stop the bullet.

 

Hmm, cukup geje juga kata-kata Morpheus, “Ketika kamu udah siap, bahkan kamu ga perlu menghindari peluru..” Apa pula maksudnya ini? Hingga pada akhir pilem, ketika Neo nyaris mati ditembak para Agen, dia ingat pada perkataan Trinity (diperankan Carrie Ann Moss) bahwa ramalan memberitahu bahwa Trinity akan jatuh cinta pada The One. Karena Trinity jatuh cinta pada Neo, Neo berpikir bahwa dialah The One. Karena dia The One, maka dia ga akan mati ‘hanya’ oleh tembakan seperti itu. Karena dia The One, maka ‘hukum alam’ yang terprogram untuk mengatur The Matrix tidak berlaku untuknya. Dia menyadari hal tersebut, selanjutnya ketika para Agen menembaki dia, dia dapat menghentikan peluru-peluru tersebut dengan kekuatan pikirannya. Para Agen pun akhirnya dapat dia kalahkan dengan mudah. Waaa..

Nah, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian, inilah yang disebut sebagai QUANTUM LEAP, suatu lompatan yang mendadak dan kentara dari suatu keadaan ke keadaan lain. Di awal cerita, Neo sama sekali tidak percaya bahwa dia dapat menghindari peluru, tapi kemudian -jangankan menghindari- lha wong dia malah bisa menghentikan peluru dengan kekuatannya. Ada beberapa tahapan untuk mencapai level tersebut, tapi semuanya baru nampak dalam sebuah quantum leap. Ketika dia uda sampe ke level tersebut, dia tidak kemudian ‘turun’ ke keadaan awalnya.

OK, contoh diatas emang cukup lebay, secara dari pilem gitu loh. Mari kita ambil contoh quantum leap dalam dunia nyata:

Mari kita masuk ke laci meja belajar dan kembali ke tahun 1991.. Emh, bukan Perang Teluk yang akan kita bahas.. Pada hari itu, entah keberapa kalinya aku belajar naik sepeda, aku gagal sebanyak aku mencoba. Bagiku ketika itu, bisa menguasai kendaraan roda dua, menjaga keseimbangan, dan melaju dengan mulus adalah hal yang sangat keren –sekaligus mustahil. Tentu, aku belum bisa membedakan antara ‘sulit’ dan ‘mustahil’. Maksudku, tingkat kemustahilanku untuk bisa naik sepeda ketika itu adalah sama dengan tamasya terbang ke bulan dilanjutkan dengan menikmati musim semi di Jupiter dan Mars. Mustahil, kan? Makanya pada satu titik, aku menyerah. Menghentikan latihanku.

Yang tidak kuperhitungkan ketika itu adalah QUANTUM LEAP.

Karena melihat teman-temanku pada bisa naik sepeda roda dua dan main kesana kemari, aku jadi iri pada mereka. Demi Tuhan, dimataku mereka keren banget, dan sangat ga mungkin aku maen sepeda-sepedaan bareng mereka dengan mengendarai sepeda roda tiga –yang tanpa banyak cingcong kita pasti sepakat bahwa sepeda roda tiga sangatlah jauh dari definisi keren. Aku pun memutuskan untuk latihan lagi. Dibantu oleh Bapakku yang memegangi sepeda dari belakang, aku mengendarai sepeda. Ketika dipegangi, aku merasa aman dan ga takut jatuh. Hingga pada satu ketika, aku tanya suatu hal ke Bapak.. Loh ko ga dijawab? Ko sepertinya ga ada Bapak dibelakang? Ternyata bapakku melepaskan pegangannya, tanpa sepengetahuanku! Dengan kata lain: hey, aku naik sepeda tanpa dipegangin! Dengan kata lain: horeeee, aku bisa naik sepeda!

Quantum leap terjadi pada keadaan mental, bukan fisik. Hey, kamu ga bisa tiba-tiba mengangkat rumah, atau menahan napas selama setengah jam, atau berlari dengan kecepatan 100 km/jam, kan? Karena tubuhmu tunduk pada hukum-hukum alam yang berlaku. Karenanya, tubuhmu ga akan secepat atau sekuat pikiranmu.

Naik sepeda memang nampak sebagai aktivitas fisik, tapi sebenarnya yang lebih dominan dalam kegiatan ini adalah kemampuan mental daripada kemampuan fisik. Aku tidak menambah kekuatan kakiku mengayuh pedal atau akurasi tanganku ketika membelokkan setang. Tapi lebih seperti, aku memutuskan untuk belajar naik sepeda, seperti meng-klik saklar ON di otakku untuk bisa naik sepeda. Begitu aku akhirnya bisa naik sepeda, aku bahkan lupa alasan kenapa sebelumnya aku ga bisa naik sepeda.

Mungkin kita semua tanpa sadar juga mengalami quantum leap. Sejak bayi, ketika mulai belajar berjalan, atau ketika pertama kali masuk kuliah, atau pertama kali masuk koas. Banyak quantum leap yang terjadi secara alami. Bayi belajar berjalan karena instingnya seperti itu, dan mereka belum punya kenangan bahwa jatuh itu sakit, makanya belajar jalan aja ya tinggal jalan. Pas masuk koas, kita ya masuk koas aja, karena kaya’nya make jas putih itu keren (walaupun menderita). Dengan semua alasan, dari yang paling rasional sampe yang paling absurd, quantum leap terjadi.

Tapi tidak semua quantum leap terjadi begitu saja. Kalo pas kamu belajar jalan ato masuk koas, mungkin porsi yang berperan lebih besar adalah hal-hal alamiah dan anggapan wajar bahwa bayi itu ‘harus’ belajar jalan dan mahasiswa kedokteran itu ‘harus’ koas. Tapi pada beberapa hal lain, saklar ON quantum leap tersebut harus kamu klik sendiri. Hal-hal seperti: menjadi percaya diri, bertingkah laku baik, rajin menabung, berpola hidup sehat, sholat berjamaah di masjid, dan sebagainya. Pertanyaannya: bagaimana kamu secara sengaja bisa meng-klik saklar ON tersebut?

Yang harus disadari adalah bahwa perkembangan secara mental pribadi seseorang terjadi dalam suatu quantum leap. Mungkin kamu sudah berusaha untuk merubah atau memulai suatu hal tapi tidak nampak hasilnya. Itu tidak berarti bahwa usahamu tidak menghasilkan suatu peningkatan. Sesuatu sedang terjadi di otakmu, berupa penambahan sinaps-sinaps antara satu neuron dengan neuron yang lain; hanya saja hal tersebut belum termanifestasi secara nyata di dunia fisik. Pada titik tertentu usaha tersebut akan menghasilkan suatu klik ON pada saklar di otakmu dan kamu dapat melakukan suatu quantum leap. Ketika kamu sudah mencapai tahap itu, kamu mungkin akan merasakan bahwa proses klik tersebut relatif singkat –dan seolah tiba-tiba– dibandingkan dengan keseluruhan proses usahamu; tapi tanpa usahamu yang lama, konsisten, dan berdarah-darah (halah lebay) tersebut, momentum untuk meng-klik ON quantum leap tidak akan ada.

Perhatikan juga ini:
Pada suhu 99˚C air terasa panas
Pada suhu 100˚C air mendidih.
Didihan air menghasilkan uap.
Dengan uap, kamu dapat menggerakkan sebuah kereta api.
Hey, satu derajat aja bisa membuat perbedaan yang sangat besar!

Jadi jangan menyerah ketika usahamu nampaknya tidak membuahkan hasil. Coba aja terus. Mungkin batas antara kita dengan quantum leap hanya satu derajat, atau bahkan kurang.
Sahabat kita, Arai Sang Pemimpi tau betul konsep ini. Karenanya dia hanya memberikan opsi ‘tidak’ untuk menyerah dalam mendapatkan cinta Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum, sosok yang seumur hidup dia yakini sebagai bidadari jelmaan os costae-nya. Seperti yang dituturkan pada Ikal di novel Sang Pemimpi halaman 188:

“Nurmala adalah tembok yang kukuh Kal…,” kilahnya diplomatis.
“Dan usahaku ibarat melempar lumpur ke tembok itu,” sambungnya optimis.
“Kau sangka tembok itu akan roboh dengan lemparan lumpur?” tanyanya retoris.
“Tidak akan! Tapi lumpur itu akan membekas disana. Apapun yang kulakukan, walaupun ditolaknya mentah-mentah, akan membekas dihatinya,” kesimpulannya filosofis.

Di novel Maryamah Karpov, kita semua akhirnya tau bahwa quantum leap itu memang terjadi: bidadari indifferent itu akhirnya membukakan pintu hatinya untuk Arai dan menerima lamarannya. Waktu yang dibutuhkan Arai hingga quantum leap ajaib itu terjadi: TUJUH tahun.

Categories: Catatan Tags:

Disini Cinta Punya Hierarki

” Tak bisa hatiku merapikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya..”

Masih terngiang rasanya lagunya Zigaz diatas diputer di bus patas Efisiensi yang mengantarku dari Jogja ke Banyumas ketika stase bedah di sana beberapa pekan yangg lalu. Merapikan cinta? Benarkah sesulit itu? Well, mungkin memang sulit, terkadang sangat sulit malah. Tapi ada kaedah dasar, yang bila kita telaah, dapat me-rekonsep cinta yang ujung-ujungnya dapat membantu kita dalam merapikan cinta. Kaedah tersebut adalah: disini cinta punya hirarki.

***

“Aku mencintaimu wahai Rasulullah melebihi cintaku pada semua yang lain, kecuali diriku sendiri.” Begitu Umar bin Khattab berkata pada Rasulullah saw. Ia hendak menyatakan cintanya pada Sang Rasul. Dengan caranya sendiri. Tapi ia tidak menduga kalau jawaban Sang Rasul justru berbeda sama sekali. Tidak! Wahai Umar! Sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri, jawab Rasulullah saw.

Itu ciri utamanya. Hirarki. Cinta berawal dan berujung pada satu dan hanya satu nama: Allah Subhanahu Wataala. Tapi Allah yang awal dan akhir dari semua cinta berkata pada Nabi dan kekasih-Nya, Muhammad SAW: “Katakanlah pada mereka, jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku.” Maka cinta pada Allah harus turun pada cinta kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW. Tapi cinta pada Muhammad SAW mengharuskan kita mencintai semua manusia yang telah beriman kepadanya, khususnya para anggota keluarga yang luhur dan sahabat-sahabatnya yang mulia, dan kepada semua generasi yang datang sesudah mereka dari pada tabiin dan pengikut para tabiin, serta siapapun yang mengikuti jalan hidup (manhaj) mereka dari kaum salaf bersama seluruh generasi mukmin hingga hari kiamat.

Cukup? Belum! Masih ada lagi. Cinta pada orang beriman yang mengharuskan kita mencintai semua ‘pekerjaan’ yang mendekatkan kita pada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Jadi cinta pada Allah harus turun pada orang dan pekerjaan. Orang-orang itu terdiri dari Nabi dan semua orang beriman. Pekerjaan itu terdiri dari semua amal shaleh.

Begitu hirarkinya. Semua cinta kita yang lain hanya akan menjadi lurus kalau ia menyesuaikan diri dengan hirarki ini. Cinta pada istri-istri dan anak-anak dan sanak saudara dan handai taulan dan sahabat karib dan rumah-rumah dan mobil-mobil dan harta-harta dan semua hanya akan menjadi lurus jika ia berada dalam ruang besar yang bernama cinta pada Allah swt. Perasaan kita harus ditata dalam struktur cinta seperti itu.

Cinta adalah sebuah ruang besar tanpa batas. Semua cinta yang lain harus disusun secara proporsional dalam ruang besar itu. Tidak mudah, memang. Tapi ini lah sumber keharmonisan jiwa manusia. Hanya ketika emosi tertata secara apik dalam hararki cinta, kita menemukan pemaknaan yang hakiki terhadap semua aliran emosi kita yang lain. Persis seperti anak-anak sungai yang mengalir sendiri-sendiri: pada mulanya menyatu dihulu, lalu tampak berpencar ditengah, tapi kemudian bertemu lagi dimuara.

***

Yup. Menggunakan hirarki dalam merapikan cinta. Simpel kan?

:)

Categories: Catatan Tags:

Verloskamer

Duabelas jam pertama di VK.

Pelajaran hidup yg kudapat hari ini, ternyata labour atau giving birth atau melahirkan adalah suatu proses yang sangat luar biasa -yang dilakukan oleh orang yang luar biasa pula: ibu.

Suatu proses yang dijadikan priviledge oleh Tuhan kepada kaum dg kromosom bergenotif XX.

Suatu proses yang sangat berat yang mengharuskan pelakunya menumpahkan tak hanya keringat dan air mata, tapi juga darah -ini secara konotasi maupun denotasi.

Luar biasa! Salut kepada semua ibu di seantero kolong langit ini.

Tiba-tiba jadi kepikiran..

Kelak, kalau bidadari yang diciptakan Tuhan sebagai jelmaan dari tulang rusukku itu menjalani proses ini, aku ingin selalu disampingnya. Dari kala I sampai kala IV. Kan kugenggam tangannya dgn tanganku; takkan kulepas. Apapun alasannya.

Kalau ada nyamuk nakal mendekat, kan kutepuk dgn tangan kiriku; sementara jemari tangan kananku masih mengisi ruang diantara jemarinya.

Kalau infusnya macet, juga akan kulancarkan alirannya dgn tangan kiriku.

Kalau ada yg SMS, kubales dgn mengetik pake tangan kiriku.

Kalau AC di ruang VK jatuh hendak menimpanya, akan kutepis.. Masih dgn tangan kiriku.

Pokoknya, tak kan kulepas genggamanku dgn alasan apapun!

Eh, tunggu sebentar. Sepertinya udah masuk waktu shalat. Kalau untuk urusan ini, “Maaf Sayang”, kataku padanya, “Demi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta seisinya, aku bersumpah bahwa aku mencintaimu, tapi cintaku padaNYA berada pada urutan paling superior dalam hirarki cintaku. Dan semua jenis cinta membutuhkan manifestasi, dalam konteks ini aku harus memenuhi panggilanNya. Berat memang melepaskan tanganmu dan meninggalkanmu sejenak, namun lebih berat konsekuensi meninggalkannya.”

Tapi tentu tanpa harus mengatakan semua itu, kekasihku sudah faham. Bahkan mungkin dia akan uring-uringan kalau aku gak sholat berjamaah di Mesjid -persis seperti ibuku.

Karena dia dan aku tidak ingin kisah kami hanya berakhir bersamaan dengan berakhirnya episode hidup kami di planet ini. Kami ingin roman kasih kami akhirnya juga bersambung di Alam Yang Tak Mengenal Akhir; dan hanya DIA yang dapat memutuskan akan demikian atau sebaliknya.

***

Sang Imam pun mengucapkan salam di penghujung rakaat terakhir.

Segera kutemui lagi cintaku, yang ketika itu kala II nya agak lama, maklum primigravida.

Kugenggam lagi tangannya, menyisipkan jemarinya di sela-sela jemariku. Kutatap erat matanya, kemudian kubisikkan dengan lembut:

“..Sayang, aku disini.”

Categories: Catatan Tags:

Aku Cuma Pengen Maen Bola

Pengen jadi striker
Tapi finishingku kok gak tenang..

Pengen jadi winger
Tapi sprintku biasa aja, jangan pula tanyakan dribblingku

Pengen jadi playmaker, trequartista gitu..
Tapi passingku monoton dan mudah terbaca

Pengen jadi holding midfielder
Hosh hosh.. Stamina gak kuat!

Pengen jadi full-back
Tapi ketika timku diserang balik, kenapa aku keasyikan di depan?

Pengen jadi centre back
Weleh, markingku kedodoran!!

Akhirnya aku jadi kiper
Seolah memang ini takdirku
Seperti dalam susunan alam semesta ini, semua orang punya peran dalam kehidupan
Pilih peran yang paling fit untukmu, kemudian berkontribusilah secara maksimal
Di sepakbola, aku sudah melakukannya dan aku menikmatinya

Toh ada dua hal paling asyik dari menjadi kiper:

Satu, ketika melakukan suatu penyelamatan, kemudian ada teman yang bilang, “Penyelamatan bagus, Pik!”

Dua, melihat ekspresi striker lawan yang frustasi, dan aku berkata dalam hati, “Oh, cuma segitu kemampuanmu?”

Categories: Puisi Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.