When I See You Smile
Wajah bapak muda itu tegang. Tangannya tremor ketika menandatangani informed consent untuk tindakan sectio secaria terhadap istrinya. Ya, kekasih hatinya tersebut telah berupaya sekuat yang dia bisa untuk melahirkan anak pertama mereka. Tapi apa daya, nihil hasilnya. Drip oxytocin 5 I.U. 12 tetes per menit gak mempan. Maka diputuskanlah tindakan SC.
Tak perlu seorang psikolog profesional untuk mengetahui apa yg dirasakan bapak itu; karena sudah sangat jelas terlihat dari air mukanya.
Aku bersama tim dokter pun segera mempersiapkan diri.. Ehm, baiklah ngaku, aku bukan operator utama yang adalah dokter spesialis obsgyn. Cuma koas. Peran di OK adalah asisten dari asisten dari operator utama. ^_^’
Satu jam berlalu. Bayi lahir dengan sehat; bayi perempuan. Ya pokoknya begitu bayi keluar, udah tanggung jawabnya perina lah. Setelah dibersihkan, si adek bayi diserahkan ke ayahnya. Nampak bersama ayahnya, ada wanita yg lebih tua. Neneknya, mungkin.
Kali ini wajah sang bapak muda jauh berbeda dibanding sekitar 70 menit yang lalu. Walau tidak ada perubahan struktur anatomis, kini wajahnya tampak lebih tampan. Jelas karena sudah lega. Plong..
Kemudian, dengan mesra dia membisikkan adzan di telinga kanan si adek dan iqomat di telinga kiri. -afwan untuk hal yang satu ini sebenarnya ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, ada yg menyatakan sunnah, ada yg tidak. Tapi bukan itu pokok bahasan kita. Kalau pengen cari kejelasannya, silakan mencari referensi yg kredibel-
Coba lihat lagi si adek bayi. Sekarang dia senyum-senyum. “Lihat, Bu. Dia senyum padaku!” Kata si bapak kepada sang nenek, yang langsung dibales, “Ah, enggak. Senyumnya ke aku, ko.”
Mungkin ini yang sedang tersenandung di hati sang bapak:
When I see you smile,
I see a ray of light
I see it shining
Right through the rain..
Hihihi.. Bapak ini sedang GR rupanya. Kalau ku katakan yang sebenarnya, bisa jadi dia tidak se sumringah saat ini. Katanya Pak Dokter India yang aku lupa namanya, di bukunya yg judulnya General Ophtalmology yang sampulnya warna putih dan di halaman depannya ada tulisan dgn huruf India yg tak bisa kubaca -tapi yang jelas bacanya bukan ‘kuch kuch hota hai’, atau ‘koi mil gaiya’, apalagi ‘my name is khan’- bahwa bayi yang baru lahir mengalami hipermetropi fisiologis sebesar +5 Dioptri. Jadi sebenarnya, si adek bayi ga bisa lihat bapaknya yang berjarak sekitar 30 cm didepannya dengan jelas. Mungkin secara idiopatik dia senyam-senyum sendiri. Gak usah GR deh, Pak. Hehe, tentu aku cukup bijak untuk tak mengatakannya ke si bapak.
Toh, tidak semua kebenaran harus diungkapkan. Ada beberapa hal yang memang lebih baik ditinggalkan apa adanya. Biarkan si bapak menikmati endorphine surge-nya. Ga usah diganggu dengan fakta yang memang berpotensi agak mengganggu salah satu hari terindah dalan hidupnya ini.
Hmm, bagaimana kalau aku berada diposisi si bapak? Aku akan melakukan hal yang sama; meski aku tau sebenarnya si adek bayi belum bisa melihat jelas, ketika dia senyum tetap aja akan kukatakan pada semua orang di VK:
“Hey, lihat. Putriku tengah senyum karenaku. Cantik kan senyumnya? Persis seperti ibunya.”

kaya lagu ya…. hehehehe….
http://andytri.wordpress.com/
hehe. itu emang dari judul lagu, bos. hehe
s7 mmang ada hal y tak hrus diungkpkn. .
Sangat mengugah tulisannya..salam kenal dokter muda..emang benar sich g semua harus dikatakan tp bpknya juga berhak tau g sich apa yg terjadi dengan anaknya..
“Hey, lihat. Putriku tengah senyum karenaku. Cantik kan senyumnya? Persis seperti ibunya.”
setuju, ibunya memang cantik sekali..
hehe
Iya ya? baru nyadar..