Archive

Archive for June, 2011

Indah

Jarang ada masa dalam sejarah hidup manusia yang lebih indah daripada saat-saat ketika dia jatuh cinta. Bukan karena dunia yang berubah menjadi lebih indah pada kenyataannya, tapi persepsi kita tentang dunia sekeliling kita lah yang seketika berubah pada masa-masa itu. Tidak selalu karena wanita yang kita cintai itu cantik pada kenyataannya, tapi cinta kita padanya lah yang membuatnya cantik di mata kita. Ketika kau jatuh cinta, variabel objektif apapun yang kau gunakan sebagai parameter kecantikan akan menjadi sangat irrelevan. Pada saat itu, oleh cinta, makna kecantikan dibebaskan dari pasungan objektivitas semu awam lalu -otomatis- akan terdefinisi secara subjektif dan sangat personal: definisimu.

Cinta pada masa-masa itulah yang mampu meng-shift persepsi kita pada realitas yang ada di sekeliling kita. Tampak seperti mengelabui diri sendiri mungkin, tapi itulah puncak subjektivitas yang justru mengubah kita lebih positif dalam cara kita memandang segala sesuatu. Dan disitulah letak keindahannya. Seperti indahnya subjektivitas pada dunia anak-anak:

Realitas dalam versi mereka adalah realitas yang mereka persepsikan dalam subjektivitas kebahagiaan  –sangat mungkin dalam versi yang sama sekali berbeda dengan yang dilihat oleh orang dewasa. Bagi mereka –anak-anak itu- lapangan keras berdebu di pojokan kampung, dengan gawang pancangan bambu yang miring, adalah stadion Piala Dunia tempat mereka bermain. Pohon dan rumput belukar yang mengelilingi lapangan adalah puluhan ribu penonton yang mengisi penuh tribun stadion dan meneriakkan nama mereka tiap kali mereka beraksi dengan bola di kakinya. Dan begitu salah satu dari mereka mencetak gol, setelah pulang dia mendadak berubah jadi reporter olahraga yang akan selalu senang hati me-review gol itu dengan penuh semangat dan analisa yang lebay khas reporter TV O*e hingga… minimal seminggu sejak gol itu.

Dunia menjadi sangat ringan dan fleksibel bagi mereka. Karenanya dunia anak akan selalu indah, penuh kenangan. Begitu juga yang terjadi saat kita jatuh cinta; shifting pada persepsi membuat dunia serasa jadi suatu realitas lain yang begitu indah. Shifting pada persepsi mengembalikan sisi kekanakan kita saat kita jatuh cinta. Itu fenomena yang mempertemukan kita dengan sisi lain jiwa kita: subjektif, melankolik, kekanakan, tapi positif… dan Indah.

Categories: Uncategorized

Founding Fathers Of Alay Generation

P3rn4h b@c@ tul!s4n k@y@ g!n!?

Bingung? Sama. Tapi yang menjadi sumber kebingungan para kaum non-Alay terhadap tulisan para kaum Alay tidak pernah terletak pada kesulitan membaca tulisan tersebut. Tulisan tersebut bisa dibaca, mudah malah. Hanya dengan meng-decode tulisan para kaum Alay ke tulisan normal saja, para kaum non-Alay secara umum cukup cerdas untuk melakukannya.

Yang menjadi sumber utama kebingungan para kaum non-Alay terhadap tulisan model tersebut sebenarnya adalah pada pertanyaan mereka terhadap motif utama yang melatar belakangi para kaum Alay menjadi kurang kerjaan menulis dengan model seperti itu. Yang kemudian, menuntun ke pertanyaan sesudahnya, pertanyaan yang lebih fundamental: Siapakah pelopor Generasi Alay? Kebanyakan dari kita (kaum non-Alay) berpikir pasti founding father mereka adalah Cewek Super Kemayu yang Merasa Menjadi Paling Gaul dan Trensetter di Seantero Galaksi Bimasakti  atau Cowok Yang Super Duper Kemayu yang Level Kemayuaanya Melebihi Si Cewek Super Kemayu yang Merasa Menjadi Paling Gaul dan Trensetter di Seantero Galaksi Bimasakti sehingga dengan menjadi kemayu dia berharap bisa menaklukkan hati Si Cewek Super Kemayu yang Merasa Menjadi Paling Gaul dan Trensetter di Seantero Galaksi Bimasakti. Tapi, hingga tulisan ini dibuat, belum ditemukan bukti otentik tentang hipotesa spekulasi tersebut.

Hipotesa berikutnya yang lebih kuat, karena mampu menunjukkan bukti otentik, menyatakan bahwa Generasi Alay terinspirasi oleh band rock asal US. Dibalik musik hip-hop underground-nya yang gahar dan penampilannya yang sangar, ternyata sekumpulan cowok bertato ini adalah para Alay! Bahkan, mungkin, mereka adalah para founding fathers generasi Alay!

Band yang dimaksud adalah… Linkin Park!

Pasalnya, pada album mereka Reanimation ( dirilis pada 2002), yang merupakan remix dari beberapa album dan single sebelumnya, mereka mencatumkan dulu lagunya dengan judul sebagai berikut:

  • Pts.Of.Athrty (maksudnya Points Of Authority)
  • Enth E Nd (maksudnya In The End)
  • Frgt/10 (maksudnya Forgotten)
  • P5hng Me A*wy (maksudnya Pushing Me Away)
  • Plc.4 Mie Haed (maksudnya Place For My Head)
  • X-Ecutioner Style (maksudnya Excetutioner Style)
  • H! Vltg3 (maksudnya High Voltage)
  • Wth>You (maksudnya With You)
  • PPr:Kut (maksudnya Papercut)
  • Rnw@y (maksudnya Runaway)
  • My{Dsmbr (maksudnya My December)
  • Stef (maksudnya Step)
  • By_Myslf (maksudnya By Myself)
  • Kyur4 Th Ich (maksudnya Cure For The Itch)
  • 1stp Klosr (maksudnya One Step Closer)
  • Krwlng (maksudnya Crawling)


Jadi, bagi Anda yang dulu jaman SMP atau SMA pernah nge-fan dengan band ini, waspadalah. Siapa tau, Anda sebenarnya punya bakat Alay, hanya belum termanifestasi.

CuM@ brrC4nd4, Bro. J@ng4n 5er!usz b4nG3tz g!tchu, dUuunKZzz!

D!tul!z oL3h: Op1cKcuTe-B@nGe3tsSl4ludIh@tiii.. ^___^

Categories: Uncategorized

Yang Saya Ingin? Piala Dunia!

Tertinggal suatu pertanyaan reflektif setelah membaca tulisan dr.Vindi Dertarani, seorang rekan sejawat dari FK UNDIP yang dulu adalah teman sekelas 3 tahun di sebuah SMA elit di Kotabaru. Tulisan tentang bimbangnya penentuan karier masa depan sebagai seorang dokter, oh Anda bisa melihat tulisan lengkapnya disini:

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150198414971123

So, Taufik Nur Yahya, apa yang sebenarnya Anda inginkan?

Well, yang benar-benar  Saya inginkan sejak menyaksikan Mike Owen melakukan solo run dari tengah lapangan, melewati hadangan Roberto Ayala dan Jose Chamot kemudian menaklukkan Carlos Roa dan mencetak sebuah gol sensasional di pertandingan perempat final Piala Dunia Perancis 1998, melawan Argentina; adalah… Saya ingin jadi bagian set-up timnas Indonesia (BUKAN Timnas PSSI wahai para komentator tivi ’90an)!

So, inilah rencana hidup yang Saya buat ketika berusia 11 tahun:

1998: Ikut sekolah sepakbola di salah satu SSB di Jogja

2002: Menjadi salah satu pemain muda paling berbakat di SSB tersebut

2003: Direkrut tim di Jogja yang sedang berkompetisi di Divisi Utama, entah PSS atau PSIM

2004: Masuk starting eleven klub tersebut

2005: Membawa tim tersebut menjadi juara Liga Indonesia, atau minimal runner up lah

2006: Dipanggil pelatih timnas untuk memperkuat Indonesia di Piala Dunia Jerman 2006

Piala Dunia 2006: Dalam suatu pertandingan yang dimana Indonesia tertinggal satu gol; melakukan solo run dari tengah lapangan, melewati beberapa pemain lawan, dan mencetak sebuah gol sensasional,.. pada usia 19 tahun! Persis seperti yang dilakukan Mike Owen di Piala Dunia 1998!

Kecepatan Michael Owen yang mampu membuat Jose Chamot dan Roberto Ayala seolah memakai sepatu yang kegedhean.

 

…Zzz..

Well, seperti yang dikatakan seorang rekan sejawat yang berasal dari sebuah SMA pinggiran yang bahkan alamat SMAnya tidak ada di Foursquare, Googlemap, maupun di Peta Yogyakarta terbitan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta; dunia nyata memang tak serenyah crispy crunchy-nya ayam Mc*. Just face it:

1998: Oh, saya masih terlalu muda untuk menerima kenyataan bahwa Ortu saya adalah para akademisi orthodoks yang menyangkal semua karier di luar yang bisa dihasilkan dengan gelar akademis! Pendeknya: mereka tidak mau menandatangani surat persetujuan ortu yang menjadi syarat pendaftaran sekolah sepakbola. The heartbreaking truth

2002: masuk tim utama di SMP saja sulit banget. Begh. The unconvenient truth

2004: Cesc Fabregas mulai bermain reguler di tim senior Arsenal; Chris Ronaldo bermain untuk United memakai seragamnya no.7 yang pernah dipakai George Best, Eric Cantona, dan David Beckham! Pada usia yang sama, Taufik Nur Yahya sibuk mbolos sekolah demi main Winning Eleven. The irritating truth

2006: Tanpa diperkuat Taufik Nur Yahya, Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2006! The moment of truth (haha)

Okay, Saya memang mungkin (pasti) bukan mantan-calon pemain sepakbola paling berbakat di negara ini. Andaipun Saya benar jadi pemain pro, belum tentu Saya jadi pemain timnas; andaipun Saya jadi pemain timnas, belum tentu Indonesia akan lolos ke Piala Dunia. Tapi poinku adalah: bagaimana jika ada seorang anak Indonesia yang bermimpi jadi pemain sepakbola profesional, yang lebih berbakat daripada Saya, lebih berbakat daripada Todi Adiyatmo, bahkan lebih berbakat daripada Rangga Aryayoga, bahkan yang bakatnya setara dengan Cesc atau CR 7 atau Leo Messi, yang akhirnya tidak jadi meniti karier di bidang sepakbola et causa ortunya tidak mau menandatangi surat pernyataan persetujuan?

Bagaimana mau memajukan persepakbolaan negeri ini jika masih saja ada underestimating dan celaan terhadap persepakbolaan nasional tanpa usaha untuk memperbaikinya? Jujur, Saya bosan dan muak dengan orang-orang yang mengagung-agungkan timnas negara lain atau klub sepakbola dari negara asing sekaligus mencela persepakbolaan dalam negeri tanpa langkah nyata untuk memperbaikinya! Tapi maaf, saya tidak mau ikut-ikutan mencela orang-orang yang mencela persepakbolaan nasional tersebut, saya tidak punya waktu. Andaipun Saya punya waktu, akan saya gunakan untuk membangun persepakbolaan nasional. Sekecil apapun kontribusi itu.

Itu dia.

Kenapa Saya tidak mencoba melakukan sesuatu untuk sepakbola di Tanah Air? Kita mulai dari menjawab pertanyaan pertama: kenapa orang tua sulit merelakan anaknya menjadi pemain sepakbola?

Karena ketidakjelasan prospek karier, yang semakin terlihat dari infrastruktur ala kadarnya di berbagai sekolah sepakbola yang ada. Maklum, sepakbola seperti itu sifatnya “pengabdian”, para pelatihnya pun menganggap karier mereka di situ sebagai sambilan. Perlengkapan ala kadarnya. Kurikulum yang tidak standar. Output dan prospek yang kurang jelas. Pengelolaannya pun kadang jauh dari profesional.

Profesional? Oh, bagaimana jika ada   sebuah akademi sepakbola yang dikelola secara profesional? Yang memiliki pelatih yang terstandar dan berdedikasi, yang memiliki baik koneksi dengan klub di dalam maupun di luar negeri sebagai salah satu opsi karier masa depan pemain, peralatan dan kurikulum yang state of the art? Bagaimana jika ada akademi sepakbola seperti itu di Jogjakarta? Bagaimana jika kita membuatnya? Hingga pada saatnya nanti, secara bertahap, berkesinambungan, tapi pasti, kualitas persepakbolaan nasional meningkat secara signifikan dan akhirnya lolos ke Putaran Final Piala Dunia.

Entah dengan Anda, tapi Saya masih punya mimpi menjadi set-up Tim Nasional Indonesia, dengan seragam Merah-putih serta logo Garuda di Dada. Jika bukan sebagai pemain, mungkin sebagai dokter tim. Bahkan, dalam kadar paling minimalpun, Saya rela: sebagai suporter yang nonton melalui televisi, atau sekedar mendengarkan siaran di radio. Indonesia lolos ke Putaran Final Piala Dunia adalah impossible? Impossible is nothing, kan hanya tagline iklan Adidas; dalam kehidupan nyata, ya some things are impossible, tapi beruntung sponsor apparel Tim Nasional kita bukan Adidas, tapi Nike. Jadi, just do it!

Garuda di dadaku! Garuda kebanggaanku! Ku yakin sore ini, pasti menang!

Categories: Uncategorized
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.