Yang Saya Ingin? Piala Dunia!
Tertinggal suatu pertanyaan reflektif setelah membaca tulisan dr.Vindi Dertarani, seorang rekan sejawat dari FK UNDIP yang dulu adalah teman sekelas 3 tahun di sebuah SMA elit di Kotabaru. Tulisan tentang bimbangnya penentuan karier masa depan sebagai seorang dokter, oh Anda bisa melihat tulisan lengkapnya disini:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150198414971123
So, Taufik Nur Yahya, apa yang sebenarnya Anda inginkan?
Well, yang benar-benar Saya inginkan sejak menyaksikan Mike Owen melakukan solo run dari tengah lapangan, melewati hadangan Roberto Ayala dan Jose Chamot kemudian menaklukkan Carlos Roa dan mencetak sebuah gol sensasional di pertandingan perempat final Piala Dunia Perancis 1998, melawan Argentina; adalah… Saya ingin jadi bagian set-up timnas Indonesia (BUKAN Timnas PSSI wahai para komentator tivi ’90an)!
So, inilah rencana hidup yang Saya buat ketika berusia 11 tahun:
1998: Ikut sekolah sepakbola di salah satu SSB di Jogja
2002: Menjadi salah satu pemain muda paling berbakat di SSB tersebut
2003: Direkrut tim di Jogja yang sedang berkompetisi di Divisi Utama, entah PSS atau PSIM
2004: Masuk starting eleven klub tersebut
2005: Membawa tim tersebut menjadi juara Liga Indonesia, atau minimal runner up lah
2006: Dipanggil pelatih timnas untuk memperkuat Indonesia di Piala Dunia Jerman 2006
Piala Dunia 2006: Dalam suatu pertandingan yang dimana Indonesia tertinggal satu gol; melakukan solo run dari tengah lapangan, melewati beberapa pemain lawan, dan mencetak sebuah gol sensasional,.. pada usia 19 tahun! Persis seperti yang dilakukan Mike Owen di Piala Dunia 1998!

Kecepatan Michael Owen yang mampu membuat Jose Chamot dan Roberto Ayala seolah memakai sepatu yang kegedhean.
…Zzz..
Well, seperti yang dikatakan seorang rekan sejawat yang berasal dari sebuah SMA pinggiran yang bahkan alamat SMAnya tidak ada di Foursquare, Googlemap, maupun di Peta Yogyakarta terbitan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta; dunia nyata memang tak serenyah crispy crunchy-nya ayam Mc*. Just face it:
1998: Oh, saya masih terlalu muda untuk menerima kenyataan bahwa Ortu saya adalah para akademisi orthodoks yang menyangkal semua karier di luar yang bisa dihasilkan dengan gelar akademis! Pendeknya: mereka tidak mau menandatangani surat persetujuan ortu yang menjadi syarat pendaftaran sekolah sepakbola. The heartbreaking truth
2002: masuk tim utama di SMP saja sulit banget. Begh. The unconvenient truth
2004: Cesc Fabregas mulai bermain reguler di tim senior Arsenal; Chris Ronaldo bermain untuk United memakai seragamnya no.7 yang pernah dipakai George Best, Eric Cantona, dan David Beckham! Pada usia yang sama, Taufik Nur Yahya sibuk mbolos sekolah demi main Winning Eleven. The irritating truth
2006: Tanpa diperkuat Taufik Nur Yahya, Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2006! The moment of truth (haha)
Okay, Saya memang mungkin (pasti) bukan mantan-calon pemain sepakbola paling berbakat di negara ini. Andaipun Saya benar jadi pemain pro, belum tentu Saya jadi pemain timnas; andaipun Saya jadi pemain timnas, belum tentu Indonesia akan lolos ke Piala Dunia. Tapi poinku adalah: bagaimana jika ada seorang anak Indonesia yang bermimpi jadi pemain sepakbola profesional, yang lebih berbakat daripada Saya, lebih berbakat daripada Todi Adiyatmo, bahkan lebih berbakat daripada Rangga Aryayoga, bahkan yang bakatnya setara dengan Cesc atau CR 7 atau Leo Messi, yang akhirnya tidak jadi meniti karier di bidang sepakbola et causa ortunya tidak mau menandatangi surat pernyataan persetujuan?
Bagaimana mau memajukan persepakbolaan negeri ini jika masih saja ada underestimating dan celaan terhadap persepakbolaan nasional tanpa usaha untuk memperbaikinya? Jujur, Saya bosan dan muak dengan orang-orang yang mengagung-agungkan timnas negara lain atau klub sepakbola dari negara asing sekaligus mencela persepakbolaan dalam negeri tanpa langkah nyata untuk memperbaikinya! Tapi maaf, saya tidak mau ikut-ikutan mencela orang-orang yang mencela persepakbolaan nasional tersebut, saya tidak punya waktu. Andaipun Saya punya waktu, akan saya gunakan untuk membangun persepakbolaan nasional. Sekecil apapun kontribusi itu.
Itu dia.
Kenapa Saya tidak mencoba melakukan sesuatu untuk sepakbola di Tanah Air? Kita mulai dari menjawab pertanyaan pertama: kenapa orang tua sulit merelakan anaknya menjadi pemain sepakbola?
Karena ketidakjelasan prospek karier, yang semakin terlihat dari infrastruktur ala kadarnya di berbagai sekolah sepakbola yang ada. Maklum, sepakbola seperti itu sifatnya “pengabdian”, para pelatihnya pun menganggap karier mereka di situ sebagai sambilan. Perlengkapan ala kadarnya. Kurikulum yang tidak standar. Output dan prospek yang kurang jelas. Pengelolaannya pun kadang jauh dari profesional.
Profesional? Oh, bagaimana jika ada sebuah akademi sepakbola yang dikelola secara profesional? Yang memiliki pelatih yang terstandar dan berdedikasi, yang memiliki baik koneksi dengan klub di dalam maupun di luar negeri sebagai salah satu opsi karier masa depan pemain, peralatan dan kurikulum yang state of the art? Bagaimana jika ada akademi sepakbola seperti itu di Jogjakarta? Bagaimana jika kita membuatnya? Hingga pada saatnya nanti, secara bertahap, berkesinambungan, tapi pasti, kualitas persepakbolaan nasional meningkat secara signifikan dan akhirnya lolos ke Putaran Final Piala Dunia.
Entah dengan Anda, tapi Saya masih punya mimpi menjadi set-up Tim Nasional Indonesia, dengan seragam Merah-putih serta logo Garuda di Dada. Jika bukan sebagai pemain, mungkin sebagai dokter tim. Bahkan, dalam kadar paling minimalpun, Saya rela: sebagai suporter yang nonton melalui televisi, atau sekedar mendengarkan siaran di radio. Indonesia lolos ke Putaran Final Piala Dunia adalah impossible? Impossible is nothing, kan hanya tagline iklan Adidas; dalam kehidupan nyata, ya some things are impossible, tapi beruntung sponsor apparel Tim Nasional kita bukan Adidas, tapi Nike. Jadi, just do it!
