Indah
Jarang ada masa dalam sejarah hidup manusia yang lebih indah daripada saat-saat ketika dia jatuh cinta. Bukan karena dunia yang berubah menjadi lebih indah pada kenyataannya, tapi persepsi kita tentang dunia sekeliling kita lah yang seketika berubah pada masa-masa itu. Tidak selalu karena wanita yang kita cintai itu cantik pada kenyataannya, tapi cinta kita padanya lah yang membuatnya cantik di mata kita. Ketika kau jatuh cinta, variabel objektif apapun yang kau gunakan sebagai parameter kecantikan akan menjadi sangat irrelevan. Pada saat itu, oleh cinta, makna kecantikan dibebaskan dari pasungan objektivitas semu awam lalu -otomatis- akan terdefinisi secara subjektif dan sangat personal: definisimu.
Cinta pada masa-masa itulah yang mampu meng-shift persepsi kita pada realitas yang ada di sekeliling kita. Tampak seperti mengelabui diri sendiri mungkin, tapi itulah puncak subjektivitas yang justru mengubah kita lebih positif dalam cara kita memandang segala sesuatu. Dan disitulah letak keindahannya. Seperti indahnya subjektivitas pada dunia anak-anak:
Realitas dalam versi mereka adalah realitas yang mereka persepsikan dalam subjektivitas kebahagiaan –sangat mungkin dalam versi yang sama sekali berbeda dengan yang dilihat oleh orang dewasa. Bagi mereka –anak-anak itu- lapangan keras berdebu di pojokan kampung, dengan gawang pancangan bambu yang miring, adalah stadion Piala Dunia tempat mereka bermain. Pohon dan rumput belukar yang mengelilingi lapangan adalah puluhan ribu penonton yang mengisi penuh tribun stadion dan meneriakkan nama mereka tiap kali mereka beraksi dengan bola di kakinya. Dan begitu salah satu dari mereka mencetak gol, setelah pulang dia mendadak berubah jadi reporter olahraga yang akan selalu senang hati me-review gol itu dengan penuh semangat dan analisa yang lebay khas reporter TV O*e hingga… minimal seminggu sejak gol itu.
Dunia menjadi sangat ringan dan fleksibel bagi mereka. Karenanya dunia anak akan selalu indah, penuh kenangan. Begitu juga yang terjadi saat kita jatuh cinta; shifting pada persepsi membuat dunia serasa jadi suatu realitas lain yang begitu indah. Shifting pada persepsi mengembalikan sisi kekanakan kita saat kita jatuh cinta. Itu fenomena yang mempertemukan kita dengan sisi lain jiwa kita: subjektif, melankolik, kekanakan, tapi positif… dan Indah.