Archive

Archive for July, 2011

Kritik

“Dokter kok motornya butut..” Begitu suatu ketika seseorang memberikan kritik yang cukup miring tentang motor Saya. Motor saya, as you know it, adalah Suzuki Shogun FD 110 keluaran tahun 2000. Warnanya hijau, paling tidak itu yang tertera di STNKnya, tapi pada beberapa bagian jadi hitam karena dulu –as you know it lagi- pernah tertabrak truk sampai hancur lebur, dan beberapa bagian harus diganti. Et causa udah tidak diproduksi lagi, terpaksa pakai yang ada. Adanya hitam. Suara mesinnya pun tidak terlalu merdu. Itu dari penampilan, dari performa, jangan harap dia bisa bisa diajak melaju diatas 70 km per jam.

Benar, memang motor Saya butut. Terus, apa yang salah dengan dokter bermotor butut? Dia melanjutkan lagi, “Dokter itu seharusnya naik mobil bagus.” Saya hanya senyam-senyum saja.

Apa benar begitu?

Seorang rekan sejawat, punya sebuah mobil bagus yang digunakannya sehari-hari untuk berkendara. Wah, berarti dia ideal dunk: dokter dengan mobil bagus. Ternyata, dia pun tidak lepas dari kritik miring, dari oknum lain. “Baru lulus kemarin sore jadi dokter kok mobilnya sudah bagus? Pasti menarik tarif yang mahal dari pasien ya?”

Teman Saya yang tidak merasa demikian, berusaha mengklarifikasi bahwa mobil yang dia gunakan bukan dari hasilnya praktek sebagai dokter, karena SIP dan STR saja belum punya. Tapi adalah pemberian orang tuanya. Berharap pernyataan tadi dapat meluruskan keadaan, malah oknum yang bersangkutan komentar lagi, “Dokter kok mobil dibelikan orang tuanya. Manja banget, kalau manja begitu, bagaimana bisa mengurus pasien?”

Jika terus dilanjutkan Saya tidak tau akan kemana arah pembicaraan-pembicaraan seperti itu. Dokter pakai motor butut salah, dokter pakai mobil bagus salah. Yang benar seperti apa? Jika ada dokter menggunakan kendaraan lain diluar keduanya, kok Saya merasa, tetap akan datang komentar miring ya? Jangan-jangan memang tidak ada yang salah. Ya, memang tidak ada yang salah dokter mau naik apa.

Saya sebenarnya tidak keberatan jika ada yang megkritik dokter. Tapi dokter, jika memang mau dikritik, harusnya dikritik dari dua hal yang memang berkaitan dengan profesi mereka: otak dan nuraninya. Dokter butuh otak untuk dapat men-treatment pasiennya; untuk men-treatmen, dia juga butuh otak untuk mendiagnosa penyakit pasiennya; untuk dapat mendiagnosa penyakit pasiennya, dia butuh otak untuk menganalisa patofisiologinya, dicocokkan dengan temuan klinis dan penunjang; untuk dapat itu semua, dia jelas butuh otak! Disisi lain, para doker juga butuh nurani, bahwa profesi mereka mengurusi nyawa manusia. Bahwa ketika mengurusi manusia, mereka harus mempunyai pri kemanusiaan, sense of humanity, yang lebih peka daripada orang-orang lain!

Dokter yang punya otak saja tanpa nurani adalah penjaja jasa kesehatan komersil, sementara dokter yang punya nurani saja tanpa otak adalah tukang prihatin setiap melihat orang sakit tanpa tau apa yang harus dilakukan, selain komentar, “Saya ikut prihatin, yang tabah ya Bu!”

Jika memang harus mengkritik dokter, kritik saja dari dua sekitar dua aspek itu saja. Bukan yang lain. Bukan kendaraan yang dinaiki, bukan dimana dia tinggal, bukan gaya hidupannya, bukan agamanya, bukan apa sarapannya tadi bagi apa.. bukan semua hal selain hal-hal yang memang berhubungan dengan profesinya sebagai dokter.

Itu satu contoh kecil dan sederhana, dan relatif -meski miring- masih lunak . Di bidang lain, sangat bisa jadi ada orang-orang seperti itu, para pengkritik yang asbun, yang tidak lunak. Tanpa tau substansi yang dibicarakannya, secara serampangan dan seenaknya keluar cercaan dan cacian. Tiba-tiba, Saya jadi merasa kasihan kepada mereka, para pengkritik itu. Diantara sekian banyak peran konstruktif di dunia ini yang mampu mereka pilih dan mereka lakukan untuk membuat hidupnya dan hidup orang lain menjadi lebih baik, mereka malah memilih peran destruktif. Kasihan!

Langkah paling baik dalam menghadapi para pengkritik tersebut adalah, menurut Saya, didiamkan saja. Tidak ada gunanya diladeni. Mari berkontribusi konstruktif, biar mereka melihat hasilnya. Tapi entah kenapa, ketika para orang-orang yang mereka kritik dapat menghasilkan hal-hal luar biasa, tetap saja akan ada kritik yang datang. Karena, itu tadi, mereka memilih peran destruktif seperti itu, sebagus apapun orang lain, mereka selalu dapat mencari –atau mencari-cari- cela.

Seperti, jika Anda adalah seorang ilmuwan yang menghabiskan 20 jam dari sehari Anda dan 7 hari dari seminggu Anda untuk meneliti, membuat sepasang sepatu yang bisa digunakan untuk berjalan diatas air. Jangan heran jika mereka berkata, “Sepatu untuk berjalan diatas air? Itu kan karena Kamu tidak bisa berenang!” Diamkan saja.

Categories: Catatan

Kan Belum Dicoba?

Oh, sebenarnya aku sendiri tidak percaya dibawah tekanan workload yang terakumulasi ini, masih sempat-sempatnya terpikir untuk mengupdate status. Yang lebih membuatku heran, dan tambah tidak percaya, bahwa aku malah memutuskan untuk -alih-alih update status- menjadikannya note, yang lebih panjang dan lebih time wasting daripada sekedar update status. Setelah terjadi konflik internal dalam diriku, akhirnya sisi diriku yang rajin mengalah untuk meluangkan waktu 5 menit membuat note ini, yang sebenarnya tau, pasti akan membutuhkan lebih dari 15 menit untuk membuatnya. Yang menang adalah sisi diriku yang sok bijak dan ingin berbagi hikmah -dan nostalgia- dari apa yang ingin kutuliskan..

Tiba-tiba aku teringat pada dia, pada Si Gendut itu yang ketika aku pesimis, meyakini apa yang akan aku -atau kami- lakukan kemungkinan berhasilnya kecil, sangat kecil, tiba-tiba dengan tampang sok innocent, dengan entengnya berkata, sebuah kalimat retoris sebenarnya: “Kan belum dicoba?”

Seingatku, ini cuma seingatku, dulu jaman SMA pernah ada pelajaran teori peluang di Matematika jaman SMA. Oleh Bu Guru NDGD, dijelaskan bahwa peluang segala sesuatu yang lebih kecil daripada 1 : 10 pangkat 18 disebut “mustahil”. Nampaknya bagi Si Gendut itu, teori seperti itu tidak berlaku. Atau berlaku tapi dia tidak mengakuinya. Bahkan, untuk hal yang peluangna 1 : ~ (bagi yang masih mikir, baca: satu banding tak hingga) sekalipun, dia tetep melakukannya. Atas motivasi (tadinya aku mau nulis ‘provokasi’ tapi gak tega) yang dia berikan, beberapa kali, aku juga nekat melakukan nyaris mustahil seperti itu.

Karena, 1 : ~ masihlah suatu peluang, dengan berbaik sangka pada Tuhan, disertai hikmah yang kami ambil dari kalimat yang dinisbahkan kepada Mbah Einstein yang menyatakan bahwa tidak semua hal yang dapat dihitung itu diperhitungkan, dan tidak semua hal yang diperhitungkan itu dapat dihitung, dan akhirnya kami bersyukur bahwa kami adalah manusia biasa yang tidak sempurna, yang tidak maha tau, yang mempunyai kecerdasan terbatas sehingga sangat mungkin ketidakmungkinan yang menjadi kesimpulan kami hanyalah semata hasil perhitungan variabel yang dapat kami perhitungkan dengan otak sederhana kami, yang padahal itu irrelevan. Sementara di luar sana ada banyak variabel yang tidak dapat kami perhitungkan, karena keterbatasan itelijensia kami, padahal variabel tersebut, apabila kami mampu menghitungnya, akan memberikan hasil kesimpulan bahwa hal tersebut dapat kami lakukan.

Tetap saja kami nekat, pada beberapa hal itu berhasil. Pada hal lain, itu gagal, gagal total. Tapi, at least, sudah dicoba. Ah, Kawan, kau tak tau hal apa yang gagal total tersebut, baguslah. Sebaiknya kau tak tau. Kau akan tanya ke kami pun, kami takkan menjawabnya. Bukan apa-apa, jika kau tau, kami hanya khawatir kau akan selalu menertawakan kami  setiap ingat tersebut sambil mengatakan pada dirimu sendiri, “Heran aku, ada tho yang mencoba melakukan hal se-mustahil itu?” Tapi, jika akhirnya kau tau, ya itu urusanmu, not ours. Yang kami tau, kami pernah mencobanya.

Anyway, apa moral of the story tulisan kita pagi ini (01:16 GMT+7 at my clock, haha): dari sudut pandang kronologis penulisan note adalah seperti kata Bang Roma: Begadang jangan begadang.. Jika tak ada gunanya. Dari sudut pandang konten dari note: kerjakan dulu, urusan belakang. Urusan kita hanyalah ikhtiar, yang lain tidak!

 

..As it is, Let’s go and try,
One way to go and take on our mission
Honestly, we’ll Do it! Ready?
We can reach the dream in the end..

(Brand Now World -V6)

Categories: Uncategorized
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.