Kan Belum Dicoba?
Oh, sebenarnya aku sendiri tidak percaya dibawah tekanan workload yang terakumulasi ini, masih sempat-sempatnya terpikir untuk mengupdate status. Yang lebih membuatku heran, dan tambah tidak percaya, bahwa aku malah memutuskan untuk -alih-alih update status- menjadikannya note, yang lebih panjang dan lebih time wasting daripada sekedar update status. Setelah terjadi konflik internal dalam diriku, akhirnya sisi diriku yang rajin mengalah untuk meluangkan waktu 5 menit membuat note ini, yang sebenarnya tau, pasti akan membutuhkan lebih dari 15 menit untuk membuatnya. Yang menang adalah sisi diriku yang sok bijak dan ingin berbagi hikmah -dan nostalgia- dari apa yang ingin kutuliskan..
Tiba-tiba aku teringat pada dia, pada Si Gendut itu yang ketika aku pesimis, meyakini apa yang akan aku -atau kami- lakukan kemungkinan berhasilnya kecil, sangat kecil, tiba-tiba dengan tampang sok innocent, dengan entengnya berkata, sebuah kalimat retoris sebenarnya: “Kan belum dicoba?”
Seingatku, ini cuma seingatku, dulu jaman SMA pernah ada pelajaran teori peluang di Matematika jaman SMA. Oleh Bu Guru NDGD, dijelaskan bahwa peluang segala sesuatu yang lebih kecil daripada 1 : 10 pangkat 18 disebut “mustahil”. Nampaknya bagi Si Gendut itu, teori seperti itu tidak berlaku. Atau berlaku tapi dia tidak mengakuinya. Bahkan, untuk hal yang peluangna 1 : ~ (bagi yang masih mikir, baca: satu banding tak hingga) sekalipun, dia tetep melakukannya. Atas motivasi (tadinya aku mau nulis ‘provokasi’ tapi gak tega) yang dia berikan, beberapa kali, aku juga nekat melakukan nyaris mustahil seperti itu.
Karena, 1 : ~ masihlah suatu peluang, dengan berbaik sangka pada Tuhan, disertai hikmah yang kami ambil dari kalimat yang dinisbahkan kepada Mbah Einstein yang menyatakan bahwa tidak semua hal yang dapat dihitung itu diperhitungkan, dan tidak semua hal yang diperhitungkan itu dapat dihitung, dan akhirnya kami bersyukur bahwa kami adalah manusia biasa yang tidak sempurna, yang tidak maha tau, yang mempunyai kecerdasan terbatas sehingga sangat mungkin ketidakmungkinan yang menjadi kesimpulan kami hanyalah semata hasil perhitungan variabel yang dapat kami perhitungkan dengan otak sederhana kami, yang padahal itu irrelevan. Sementara di luar sana ada banyak variabel yang tidak dapat kami perhitungkan, karena keterbatasan itelijensia kami, padahal variabel tersebut, apabila kami mampu menghitungnya, akan memberikan hasil kesimpulan bahwa hal tersebut dapat kami lakukan.
Tetap saja kami nekat, pada beberapa hal itu berhasil. Pada hal lain, itu gagal, gagal total. Tapi, at least, sudah dicoba. Ah, Kawan, kau tak tau hal apa yang gagal total tersebut, baguslah. Sebaiknya kau tak tau. Kau akan tanya ke kami pun, kami takkan menjawabnya. Bukan apa-apa, jika kau tau, kami hanya khawatir kau akan selalu menertawakan kamiĀ setiap ingat tersebut sambil mengatakan pada dirimu sendiri, “Heran aku, ada tho yang mencoba melakukan hal se-mustahil itu?” Tapi, jika akhirnya kau tau, ya itu urusanmu, not ours. Yang kami tau, kami pernah mencobanya.
Anyway, apa moral of the story tulisan kita pagi ini (01:16 GMT+7 at my clock, haha): dari sudut pandang kronologis penulisan note adalah seperti kata Bang Roma: Begadang jangan begadang.. Jika tak ada gunanya. Dari sudut pandang konten dari note: kerjakan dulu, urusan belakang. Urusan kita hanyalah ikhtiar, yang lain tidak!
..As it is, Let’s go and try,
One way to go and take on our mission
Honestly, we’ll Do it! Ready?
We can reach the dream in the end..
(Brand Now World -V6)