Home > Catatan > Kritik

Kritik

“Dokter kok motornya butut..” Begitu suatu ketika seseorang memberikan kritik yang cukup miring tentang motor Saya. Motor saya, as you know it, adalah Suzuki Shogun FD 110 keluaran tahun 2000. Warnanya hijau, paling tidak itu yang tertera di STNKnya, tapi pada beberapa bagian jadi hitam karena dulu –as you know it lagi- pernah tertabrak truk sampai hancur lebur, dan beberapa bagian harus diganti. Et causa udah tidak diproduksi lagi, terpaksa pakai yang ada. Adanya hitam. Suara mesinnya pun tidak terlalu merdu. Itu dari penampilan, dari performa, jangan harap dia bisa bisa diajak melaju diatas 70 km per jam.

Benar, memang motor Saya butut. Terus, apa yang salah dengan dokter bermotor butut? Dia melanjutkan lagi, “Dokter itu seharusnya naik mobil bagus.” Saya hanya senyam-senyum saja.

Apa benar begitu?

Seorang rekan sejawat, punya sebuah mobil bagus yang digunakannya sehari-hari untuk berkendara. Wah, berarti dia ideal dunk: dokter dengan mobil bagus. Ternyata, dia pun tidak lepas dari kritik miring, dari oknum lain. “Baru lulus kemarin sore jadi dokter kok mobilnya sudah bagus? Pasti menarik tarif yang mahal dari pasien ya?”

Teman Saya yang tidak merasa demikian, berusaha mengklarifikasi bahwa mobil yang dia gunakan bukan dari hasilnya praktek sebagai dokter, karena SIP dan STR saja belum punya. Tapi adalah pemberian orang tuanya. Berharap pernyataan tadi dapat meluruskan keadaan, malah oknum yang bersangkutan komentar lagi, “Dokter kok mobil dibelikan orang tuanya. Manja banget, kalau manja begitu, bagaimana bisa mengurus pasien?”

Jika terus dilanjutkan Saya tidak tau akan kemana arah pembicaraan-pembicaraan seperti itu. Dokter pakai motor butut salah, dokter pakai mobil bagus salah. Yang benar seperti apa? Jika ada dokter menggunakan kendaraan lain diluar keduanya, kok Saya merasa, tetap akan datang komentar miring ya? Jangan-jangan memang tidak ada yang salah. Ya, memang tidak ada yang salah dokter mau naik apa.

Saya sebenarnya tidak keberatan jika ada yang megkritik dokter. Tapi dokter, jika memang mau dikritik, harusnya dikritik dari dua hal yang memang berkaitan dengan profesi mereka: otak dan nuraninya. Dokter butuh otak untuk dapat men-treatment pasiennya; untuk men-treatmen, dia juga butuh otak untuk mendiagnosa penyakit pasiennya; untuk dapat mendiagnosa penyakit pasiennya, dia butuh otak untuk menganalisa patofisiologinya, dicocokkan dengan temuan klinis dan penunjang; untuk dapat itu semua, dia jelas butuh otak! Disisi lain, para doker juga butuh nurani, bahwa profesi mereka mengurusi nyawa manusia. Bahwa ketika mengurusi manusia, mereka harus mempunyai pri kemanusiaan, sense of humanity, yang lebih peka daripada orang-orang lain!

Dokter yang punya otak saja tanpa nurani adalah penjaja jasa kesehatan komersil, sementara dokter yang punya nurani saja tanpa otak adalah tukang prihatin setiap melihat orang sakit tanpa tau apa yang harus dilakukan, selain komentar, “Saya ikut prihatin, yang tabah ya Bu!”

Jika memang harus mengkritik dokter, kritik saja dari dua sekitar dua aspek itu saja. Bukan yang lain. Bukan kendaraan yang dinaiki, bukan dimana dia tinggal, bukan gaya hidupannya, bukan agamanya, bukan apa sarapannya tadi bagi apa.. bukan semua hal selain hal-hal yang memang berhubungan dengan profesinya sebagai dokter.

Itu satu contoh kecil dan sederhana, dan relatif -meski miring- masih lunak . Di bidang lain, sangat bisa jadi ada orang-orang seperti itu, para pengkritik yang asbun, yang tidak lunak. Tanpa tau substansi yang dibicarakannya, secara serampangan dan seenaknya keluar cercaan dan cacian. Tiba-tiba, Saya jadi merasa kasihan kepada mereka, para pengkritik itu. Diantara sekian banyak peran konstruktif di dunia ini yang mampu mereka pilih dan mereka lakukan untuk membuat hidupnya dan hidup orang lain menjadi lebih baik, mereka malah memilih peran destruktif. Kasihan!

Langkah paling baik dalam menghadapi para pengkritik tersebut adalah, menurut Saya, didiamkan saja. Tidak ada gunanya diladeni. Mari berkontribusi konstruktif, biar mereka melihat hasilnya. Tapi entah kenapa, ketika para orang-orang yang mereka kritik dapat menghasilkan hal-hal luar biasa, tetap saja akan ada kritik yang datang. Karena, itu tadi, mereka memilih peran destruktif seperti itu, sebagus apapun orang lain, mereka selalu dapat mencari –atau mencari-cari- cela.

Seperti, jika Anda adalah seorang ilmuwan yang menghabiskan 20 jam dari sehari Anda dan 7 hari dari seminggu Anda untuk meneliti, membuat sepasang sepatu yang bisa digunakan untuk berjalan diatas air. Jangan heran jika mereka berkata, “Sepatu untuk berjalan diatas air? Itu kan karena Kamu tidak bisa berenang!” Diamkan saja.

Categories: Catatan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.