<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Taufik Nur Yahya&#039;s Official Weblog</title>
	<atom:link href="http://taufiknuryahya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://taufiknuryahya.wordpress.com</link>
	<description>Sunyi, tetap berusaha jujur dan ikhlas. Tak usah banyak bicara, t&#039;rus kerja keras.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 Jul 2011 11:17:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='taufiknuryahya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Taufik Nur Yahya&#039;s Official Weblog</title>
		<link>http://taufiknuryahya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://taufiknuryahya.wordpress.com/osd.xml" title="Taufik Nur Yahya&#039;s Official Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://taufiknuryahya.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kritik</title>
		<link>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/07/10/kritik/</link>
		<comments>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/07/10/kritik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jul 2011 09:12:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taufik Nur Yahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufiknuryahya.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[“Dokter kok motornya butut..” Begitu suatu ketika seseorang memberikan kritik yang cukup miring tentang motor Saya. Motor saya, as you know it, adalah Suzuki Shogun FD 110 keluaran tahun 2000. Warnanya hijau, paling tidak itu yang tertera di STNKnya, tapi pada beberapa bagian jadi hitam karena dulu –as you know it lagi- pernah tertabrak truk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=101&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Dokter kok motornya butut..” Begitu suatu ketika seseorang memberikan kritik yang cukup miring tentang motor Saya. Motor saya,<em> as you know it</em>, adalah Suzuki Shogun FD 110 keluaran tahun 2000. Warnanya hijau, paling tidak itu yang tertera di STNKnya, tapi pada beberapa bagian jadi hitam karena dulu –<em>as you know it</em> lagi- pernah tertabrak truk sampai hancur lebur, dan beberapa bagian harus diganti.<em> Et causa</em> udah tidak diproduksi lagi, terpaksa pakai yang ada. Adanya hitam. Suara mesinnya pun tidak terlalu merdu. Itu dari penampilan, dari performa, jangan harap dia bisa bisa diajak melaju diatas 70 km per jam.</p>
<p>Benar, memang motor Saya butut. Terus, apa yang salah dengan dokter bermotor butut? Dia melanjutkan lagi, “Dokter itu seharusnya naik mobil bagus.” Saya hanya senyam-senyum saja.</p>
<p>Apa benar begitu?</p>
<p>Seorang rekan sejawat, punya sebuah mobil bagus yang digunakannya sehari-hari untuk berkendara. Wah, berarti dia ideal dunk: dokter dengan mobil bagus. Ternyata, dia pun tidak lepas dari kritik miring, dari oknum lain. “Baru lulus kemarin sore jadi dokter kok mobilnya sudah bagus? Pasti menarik tarif yang mahal dari pasien ya?”</p>
<p>Teman Saya yang tidak merasa demikian, berusaha mengklarifikasi bahwa mobil yang dia gunakan bukan dari hasilnya praktek sebagai dokter, karena SIP dan STR saja belum punya. Tapi adalah pemberian orang tuanya. Berharap pernyataan tadi dapat meluruskan keadaan, malah oknum yang bersangkutan komentar lagi, “Dokter kok mobil dibelikan orang tuanya. Manja banget, kalau manja begitu, bagaimana bisa mengurus pasien?”</p>
<p>Jika terus dilanjutkan Saya tidak tau akan kemana arah pembicaraan-pembicaraan seperti itu. Dokter pakai motor butut salah, dokter pakai mobil bagus salah. Yang benar seperti apa? Jika ada dokter menggunakan kendaraan lain diluar keduanya, kok Saya merasa, tetap akan datang komentar miring ya? Jangan-jangan memang tidak ada yang salah. Ya, memang tidak ada yang salah dokter mau naik apa.</p>
<p>Saya sebenarnya tidak keberatan jika ada yang megkritik dokter. Tapi dokter, jika memang mau dikritik, harusnya dikritik dari dua hal yang memang berkaitan dengan profesi mereka: otak dan nuraninya. Dokter butuh otak untuk dapat men-treatment pasiennya; untuk men-treatmen, dia juga butuh otak untuk mendiagnosa penyakit pasiennya; untuk dapat mendiagnosa penyakit pasiennya, dia butuh otak untuk menganalisa patofisiologinya, dicocokkan dengan temuan klinis dan penunjang; untuk dapat itu semua, dia jelas butuh otak! Disisi lain, para doker juga butuh nurani, bahwa profesi mereka mengurusi nyawa manusia. Bahwa ketika mengurusi manusia, mereka harus mempunyai pri kemanusiaan, <em>sense of humanity, </em>yang lebih peka daripada orang-orang lain!</p>
<p>Dokter yang punya otak saja tanpa nurani adalah penjaja jasa kesehatan komersil, sementara dokter yang punya nurani saja tanpa otak adalah tukang prihatin setiap melihat orang sakit tanpa tau apa yang harus dilakukan, selain komentar, “Saya ikut prihatin, yang tabah ya Bu!”</p>
<p>Jika memang harus mengkritik dokter, kritik saja dari dua sekitar dua aspek itu saja. Bukan yang lain. Bukan kendaraan yang dinaiki, bukan dimana dia tinggal, bukan gaya hidupannya, bukan agamanya, bukan apa sarapannya tadi bagi apa.. bukan semua hal selain hal-hal yang memang berhubungan dengan profesinya sebagai dokter.</p>
<p>Itu satu contoh kecil dan sederhana, dan relatif -meski miring- masih lunak . Di bidang lain, sangat bisa jadi ada orang-orang seperti itu, para pengkritik yang asbun, yang tidak lunak. Tanpa tau substansi yang dibicarakannya, secara serampangan dan seenaknya keluar cercaan dan cacian. Tiba-tiba, Saya jadi merasa kasihan kepada mereka, para pengkritik itu. Diantara sekian banyak peran konstruktif di dunia ini yang mampu mereka pilih dan mereka lakukan untuk membuat hidupnya dan hidup orang lain menjadi lebih baik, mereka malah memilih peran destruktif. Kasihan!</p>
<p>Langkah paling baik dalam menghadapi para pengkritik tersebut adalah, menurut Saya, didiamkan saja. Tidak ada gunanya diladeni. Mari berkontribusi konstruktif, biar mereka melihat hasilnya. Tapi entah kenapa, ketika para orang-orang yang mereka kritik dapat menghasilkan hal-hal luar biasa, tetap saja akan ada kritik yang datang. Karena, itu tadi, mereka memilih peran destruktif seperti itu, sebagus apapun orang lain, mereka selalu dapat mencari –atau mencari-cari- cela.</p>
<p>Seperti, jika Anda adalah seorang ilmuwan yang menghabiskan 20 jam dari sehari Anda dan 7 hari dari seminggu Anda untuk meneliti, membuat sepasang sepatu yang bisa digunakan untuk berjalan diatas air. Jangan heran jika mereka berkata, “Sepatu untuk berjalan diatas air? Itu kan karena Kamu tidak bisa berenang!” Diamkan saja.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufiknuryahya.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufiknuryahya.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufiknuryahya.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufiknuryahya.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taufiknuryahya.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taufiknuryahya.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taufiknuryahya.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taufiknuryahya.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufiknuryahya.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufiknuryahya.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufiknuryahya.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufiknuryahya.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufiknuryahya.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufiknuryahya.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=101&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/07/10/kritik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/32acaa3a2ff6a3882ce8a519e0408230?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Taufik Nur Yahya, S. Ked</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kan Belum Dicoba?</title>
		<link>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/07/08/kan-belum-dicoba/</link>
		<comments>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/07/08/kan-belum-dicoba/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 16:59:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taufik Nur Yahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufiknuryahya.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Oh, sebenarnya aku sendiri tidak percaya dibawah tekanan workload yang terakumulasi ini, masih sempat-sempatnya terpikir untuk mengupdate status. Yang lebih membuatku heran, dan tambah tidak percaya, bahwa aku malah memutuskan untuk -alih-alih update status- menjadikannya note, yang lebih panjang dan lebih time wasting daripada sekedar update status. Setelah terjadi konflik internal dalam diriku, akhirnya sisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=97&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oh, sebenarnya aku sendiri tidak percaya dibawah tekanan workload yang terakumulasi ini, masih sempat-sempatnya terpikir untuk mengupdate status. Yang lebih membuatku heran, dan tambah tidak percaya, bahwa aku malah memutuskan untuk -alih-alih update status- menjadikannya note, yang lebih panjang dan lebih time wasting daripada sekedar update status. Setelah terjadi konflik internal dalam diriku, akhirnya sisi diriku yang rajin mengalah untuk meluangkan waktu 5 menit membuat note ini, yang sebenarnya tau, <em>pasti </em>akan membutuhkan lebih dari 15 menit untuk membuatnya. Yang menang adalah sisi diriku yang sok bijak dan ingin berbagi hikmah -dan nostalgia- dari apa yang ingin kutuliskan..</p>
<p>Tiba-tiba aku teringat pada dia, pada Si Gendut itu yang ketika aku pesimis, meyakini apa yang akan aku -atau kami- lakukan kemungkinan berhasilnya kecil, sangat kecil, tiba-tiba dengan tampang sok innocent, dengan entengnya berkata, sebuah kalimat retoris sebenarnya: &#8220;Kan belum dicoba?&#8221;</p>
<p>Seingatku, ini cuma seingatku, dulu jaman SMA pernah ada pelajaran teori peluang di Matematika jaman SMA. Oleh Bu Guru NDGD, dijelaskan bahwa peluang segala sesuatu yang lebih kecil daripada 1 : 10 pangkat 18 disebut &#8220;mustahil&#8221;. Nampaknya bagi Si Gendut itu, teori seperti itu tidak berlaku. Atau berlaku tapi dia tidak mengakuinya. Bahkan, untuk hal yang peluangna 1 : ~ (bagi yang masih mikir, baca: satu banding tak hingga) sekalipun, dia tetep melakukannya. Atas motivasi (tadinya aku mau nulis &#8216;provokasi&#8217; tapi gak tega) yang dia berikan, beberapa kali, aku juga nekat melakukan nyaris mustahil seperti itu.</p>
<p>Karena, 1 : ~ masihlah suatu peluang, dengan berbaik sangka pada Tuhan, disertai hikmah yang kami ambil dari kalimat yang dinisbahkan kepada Mbah Einstein yang menyatakan bahwa tidak semua hal yang dapat dihitung itu diperhitungkan, dan tidak semua hal yang diperhitungkan itu dapat dihitung, dan akhirnya kami bersyukur bahwa kami adalah manusia biasa yang tidak sempurna, yang tidak maha tau, yang mempunyai kecerdasan terbatas sehingga sangat mungkin ketidakmungkinan yang menjadi kesimpulan kami hanyalah semata hasil perhitungan variabel yang dapat kami perhitungkan dengan otak sederhana kami, yang padahal itu irrelevan. Sementara di luar sana ada banyak variabel yang tidak dapat kami perhitungkan, karena keterbatasan itelijensia kami, padahal variabel tersebut, apabila kami mampu menghitungnya, akan memberikan hasil kesimpulan bahwa hal tersebut dapat kami lakukan.</p>
<p>Tetap saja kami nekat, pada beberapa hal itu berhasil. Pada hal lain, itu gagal, gagal total. Tapi, at least, sudah dicoba. Ah, Kawan, kau tak tau hal apa yang gagal total tersebut, baguslah. Sebaiknya kau tak tau. Kau akan tanya ke kami pun, kami takkan menjawabnya. Bukan apa-apa, jika kau tau, kami hanya khawatir kau akan selalu menertawakan kami  setiap ingat tersebut sambil mengatakan pada dirimu sendiri, &#8220;Heran aku, ada tho yang mencoba melakukan hal se-mustahil itu?&#8221; Tapi, jika akhirnya kau tau, ya itu urusanmu, not ours. Yang kami tau, kami pernah mencobanya.</p>
<p>Anyway, apa moral of the story tulisan kita pagi ini (01:16 GMT+7 at my clock, haha): dari sudut pandang kronologis penulisan note adalah seperti kata Bang Roma: Begadang jangan begadang.. Jika tak ada gunanya. Dari sudut pandang konten dari note: kerjakan dulu, urusan belakang. Urusan kita hanyalah ikhtiar, yang lain tidak!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>..As it is, Let&#8217;s go and try,</em><br />
<em>One way to go and take on our mission</em><br />
<em>Honestly, we&#8217;ll Do it! Ready?</em><br />
<em>We can reach the dream in the end..</em></p>
<p>(Brand Now World -V6)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufiknuryahya.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufiknuryahya.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufiknuryahya.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufiknuryahya.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taufiknuryahya.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taufiknuryahya.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taufiknuryahya.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taufiknuryahya.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufiknuryahya.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufiknuryahya.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufiknuryahya.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufiknuryahya.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufiknuryahya.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufiknuryahya.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=97&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/07/08/kan-belum-dicoba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/32acaa3a2ff6a3882ce8a519e0408230?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Taufik Nur Yahya, S. Ked</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indah</title>
		<link>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/06/29/indah/</link>
		<comments>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/06/29/indah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2011 06:47:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taufik Nur Yahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufiknuryahya.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Jarang ada masa dalam sejarah hidup manusia yang lebih indah daripada saat-saat ketika dia jatuh cinta. Bukan karena dunia yang berubah menjadi lebih indah pada kenyataannya, tapi persepsi kita tentang dunia sekeliling kita lah yang seketika berubah pada masa-masa itu. Tidak selalu karena wanita yang kita cintai itu cantik pada kenyataannya, tapi cinta kita padanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=94&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jarang ada masa dalam sejarah hidup manusia yang lebih indah daripada saat-saat ketika dia jatuh cinta. Bukan karena dunia yang berubah menjadi lebih indah pada kenyataannya, tapi persepsi kita tentang dunia sekeliling kita lah yang seketika berubah pada masa-masa itu. Tidak selalu karena wanita yang kita cintai itu cantik pada kenyataannya, tapi cinta kita padanya lah yang membuatnya cantik di mata kita. Ketika kau jatuh cinta, variabel objektif apapun yang kau gunakan sebagai parameter kecantikan akan menjadi sangat irrelevan. Pada saat itu, oleh cinta, makna kecantikan dibebaskan dari pasungan objektivitas semu awam lalu -otomatis- akan terdefinisi secara subjektif dan sangat personal: definisi<em>mu</em>.</p>
<p>Cinta pada masa-masa itulah yang mampu meng-<em>shift</em> persepsi kita pada realitas yang ada di sekeliling kita. Tampak seperti mengelabui diri sendiri mungkin, tapi itulah puncak subjektivitas yang justru mengubah kita lebih positif dalam cara kita memandang segala sesuatu. Dan disitulah letak keindahannya. Seperti indahnya subjektivitas pada dunia anak-anak:</p>
<p>Realitas dalam versi mereka adalah realitas yang mereka persepsikan dalam subjektivitas kebahagiaan  –sangat mungkin dalam versi yang sama sekali berbeda dengan yang dilihat oleh orang dewasa. Bagi mereka –anak-anak itu- lapangan keras berdebu di pojokan kampung, dengan gawang pancangan bambu yang miring, adalah stadion Piala Dunia tempat mereka bermain. Pohon dan rumput belukar yang mengelilingi lapangan adalah puluhan ribu penonton yang mengisi penuh tribun stadion dan meneriakkan nama mereka tiap kali mereka beraksi dengan bola di kakinya. Dan begitu salah satu dari mereka mencetak gol, setelah pulang dia mendadak berubah jadi reporter olahraga yang akan selalu senang hati me-<em>review</em> gol itu dengan penuh semangat dan analisa yang <em>lebay</em> khas reporter TV O*e hingga&#8230; minimal seminggu sejak gol itu.</p>
<p>Dunia menjadi sangat ringan dan fleksibel bagi mereka. Karenanya dunia anak akan selalu indah, penuh kenangan. Begitu juga yang terjadi saat kita jatuh cinta; <em>shifting</em> pada persepsi membuat dunia serasa jadi suatu realitas lain yang begitu indah. <em>Shifting </em>pada persepsi mengembalikan sisi kekanakan kita saat kita jatuh cinta. Itu fenomena yang mempertemukan kita dengan sisi lain jiwa kita: subjektif, melankolik, kekanakan, tapi positif&#8230; dan Indah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufiknuryahya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufiknuryahya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufiknuryahya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufiknuryahya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taufiknuryahya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taufiknuryahya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taufiknuryahya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taufiknuryahya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufiknuryahya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufiknuryahya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufiknuryahya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufiknuryahya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufiknuryahya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufiknuryahya.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=94&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/06/29/indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/32acaa3a2ff6a3882ce8a519e0408230?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Taufik Nur Yahya, S. Ked</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Founding Fathers Of Alay Generation</title>
		<link>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/06/18/founding-fathers-of-alay-generation/</link>
		<comments>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/06/18/founding-fathers-of-alay-generation/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jun 2011 05:01:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taufik Nur Yahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufiknuryahya.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[P3rn4h b@c@ tul!s4n k@y@ g!n!? Bingung? Sama. Tapi yang menjadi sumber kebingungan para kaum non-Alay terhadap tulisan para kaum Alay tidak pernah terletak pada kesulitan membaca tulisan tersebut. Tulisan tersebut bisa dibaca, mudah malah. Hanya dengan meng-decode tulisan para kaum Alay ke tulisan normal saja, para kaum non-Alay secara umum cukup cerdas untuk melakukannya. Yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=85&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>P3rn4h b@c@ tul!s4n k@y@ g!n!?</p>
<p>Bingung? Sama. Tapi yang menjadi sumber kebingungan para kaum non-Alay terhadap tulisan para kaum Alay tidak pernah terletak pada kesulitan membaca tulisan tersebut. Tulisan tersebut bisa dibaca, mudah malah. Hanya dengan meng-<em>decode </em>tulisan para kaum Alay ke tulisan normal saja, para kaum non-Alay secara umum cukup cerdas untuk melakukannya.</p>
<p>Yang menjadi sumber utama kebingungan para kaum non-Alay terhadap tulisan model tersebut sebenarnya adalah pada pertanyaan mereka terhadap motif utama yang melatar belakangi para kaum Alay menjadi kurang kerjaan menulis dengan model seperti itu. Yang kemudian, menuntun ke pertanyaan sesudahnya, pertanyaan yang lebih fundamental: Siapakah pelopor Generasi Alay? Kebanyakan dari kita (kaum non-Alay) berpikir pasti founding father mereka adalah<em> Cewek Super Kemayu yang Merasa Menjadi Paling Gaul dan Trensetter di Seantero Galaksi Bimasakti </em> atau <em>Cowok Yang Super Duper Kemayu yang Level Kemayuaanya Melebihi Si Cewek Super Kemayu yang Merasa Menjadi Paling Gaul dan Trensetter di Seantero Galaksi Bimasakti</em> sehingga dengan menjadi kemayu dia berharap bisa menaklukkan hati <em>Si Cewek Super Kemayu yang Merasa Menjadi Paling Gaul dan Trensetter di Seantero Galaksi Bimasakti. </em>Tapi, hingga tulisan ini dibuat, belum ditemukan bukti otentik tentang hipotesa spekulasi tersebut.</p>
<p>Hipotesa berikutnya yang lebih kuat, karena mampu menunjukkan bukti otentik, menyatakan bahwa Generasi Alay terinspirasi oleh band <em>rock</em> asal US. Dibalik musik <em>hip-hop underground</em>-nya yang gahar dan penampilannya yang sangar, ternyata sekumpulan cowok bertato ini adalah para Alay! Bahkan, mungkin, mereka adalah para <em>founding father</em>s generasi Alay!</p>
<p>Band yang dimaksud adalah&#8230; Linkin Park!</p>
<p>Pasalnya, pada album mereka Reanimation ( dirilis pada 2002), yang merupakan remix dari beberapa album dan <em>single</em> sebelumnya, mereka mencatumkan dulu lagunya dengan judul sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Pts.Of.Athrty (maksudnya<em> Points Of Authority</em>)</li>
<li>Enth E Nd (maksudnya <em>In The End</em>)</li>
<li>Frgt/10 (maksudnya<em> Forgotten</em>)</li>
<li>P5hng Me A*wy (maksudnya <em>Pushing Me Away</em>)</li>
<li>Plc.4 Mie Haed (maksudnya <em>Place For My Head</em>)</li>
<li>X-Ecutioner Style (maksudnya <em>Excetutioner Style</em>)</li>
<li>H! Vltg3 (maksudnya <em>High Voltage</em>)</li>
<li>Wth&gt;You (maksudnya<em> With You</em>)</li>
<li>PPr:Kut (maksudnya<em> Papercut</em>)</li>
<li>Rnw@y (maksudnya<em> Runaway</em>)</li>
<li>My{Dsmbr (maksudnya <em>My December</em>)</li>
<li>Stef (maksudnya <em>Step</em>)</li>
<li>By_Myslf (maksudnya <em>By Myself</em>)</li>
<li>Kyur4 Th Ich (maksudnya <em>Cure For The Itch</em>)</li>
<li>1stp Klosr (maksudnya <em>One Step Closer</em>)</li>
<li>Krwlng (maksudnya <em>Crawling</em>)</li>
</ul>
<p><a href="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2011/06/linkin_park-reanimation-trasera.jpg"><img class="size-medium wp-image-87" title="Linkin_Park-Reanimation-Trasera" src="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2011/06/linkin_park-reanimation-trasera.jpg?w=300&#038;h=239" alt="" width="300" height="239" /></a><br />
Jadi, bagi Anda yang dulu jaman SMP atau SMA pernah nge-<em>fan </em>dengan band ini, waspadalah. Siapa tau, Anda sebenarnya punya bakat Alay, hanya belum termanifestasi.</p>
<p>CuM@ brrC4nd4, Bro. J@ng4n 5er!usz b4nG3tz g!tchu, dUuunKZzz!</p>
<p>D!tul!z oL3h: Op1cKcuTe-B@nGe3tsSl4ludIh@tiii.. ^___^</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufiknuryahya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufiknuryahya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufiknuryahya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufiknuryahya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taufiknuryahya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taufiknuryahya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taufiknuryahya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taufiknuryahya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufiknuryahya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufiknuryahya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufiknuryahya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufiknuryahya.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufiknuryahya.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufiknuryahya.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=85&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/06/18/founding-fathers-of-alay-generation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/32acaa3a2ff6a3882ce8a519e0408230?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Taufik Nur Yahya, S. Ked</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2011/06/linkin_park-reanimation-trasera.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Linkin_Park-Reanimation-Trasera</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Saya Ingin? Piala Dunia!</title>
		<link>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/06/18/yang-saya-ingin-piala-dunia/</link>
		<comments>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/06/18/yang-saya-ingin-piala-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jun 2011 04:47:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taufik Nur Yahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufiknuryahya.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Tertinggal suatu pertanyaan reflektif setelah membaca tulisan dr.Vindi Dertarani, seorang rekan sejawat dari FK UNDIP yang dulu adalah teman sekelas 3 tahun di sebuah SMA elit di Kotabaru. Tulisan tentang bimbangnya penentuan karier masa depan sebagai seorang dokter, oh Anda bisa melihat tulisan lengkapnya disini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150198414971123 So, Taufik Nur Yahya, apa yang sebenarnya Anda inginkan? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=76&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tertinggal suatu pertanyaan reflektif setelah membaca tulisan dr.Vindi Dertarani, seorang rekan sejawat dari FK UNDIP yang dulu adalah teman sekelas 3 tahun di sebuah SMA elit di Kotabaru. Tulisan tentang bimbangnya penentuan karier masa depan sebagai seorang dokter, oh Anda bisa melihat tulisan lengkapnya disini:</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150198414971123" target="_blank">http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150198414971123</a></p>
<p>So, Taufik Nur Yahya, apa yang sebenarnya Anda inginkan?</p>
<p>Well, yang benar-benar  Saya inginkan sejak menyaksikan Mike Owen melakukan <em>solo run</em> dari tengah lapangan, melewati hadangan Roberto Ayala dan Jose Chamot kemudian menaklukkan Carlos Roa dan mencetak sebuah gol sensasional di pertandingan perempat final Piala Dunia Perancis 1998, melawan Argentina; adalah&#8230; Saya ingin jadi bagian <em>set-up</em> timnas Indonesia (BUKAN<em> Timnas PSSI</em> wahai para komentator tivi &#8217;90an)!</p>
<p>So, inilah rencana hidup yang Saya buat ketika berusia 11 tahun:</p>
<p>1998: Ikut sekolah sepakbola di salah satu SSB di Jogja</p>
<p>2002: Menjadi salah satu pemain muda paling berbakat di SSB tersebut</p>
<p>2003: Direkrut tim di Jogja yang sedang berkompetisi di Divisi Utama, entah PSS atau PSIM</p>
<p>2004: Masuk <em>starting eleven</em> klub tersebut</p>
<p>2005: Membawa tim tersebut menjadi juara Liga Indonesia, atau minimal <em>runner up</em> lah</p>
<p>2006: Dipanggil pelatih timnas untuk memperkuat Indonesia di Piala Dunia Jerman 2006</p>
<p>Piala Dunia 2006: Dalam suatu pertandingan yang dimana Indonesia tertinggal satu gol; melakukan <em>solo run</em> dari tengah lapangan, melewati beberapa pemain lawan, dan mencetak sebuah gol sensasional,.. pada usia 19 tahun! Persis seperti yang dilakukan Mike Owen di Piala Dunia 1998!</p>
<div id="attachment_92" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2011/06/owen.jpg"><img class="size-medium wp-image-92 " title="owen" src="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2011/06/owen.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Kecepatan Michael Owen yang mampu membuat Jose Chamot dan Roberto Ayala seolah memakai sepatu yang kegedhean.</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8230;Zzz..</p>
<p><em>Well</em>, seperti yang dikatakan seorang rekan sejawat yang berasal dari sebuah SMA pinggiran yang bahkan alamat SMAnya tidak ada di Foursquare, Googlemap, maupun di Peta Yogyakarta terbitan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta; dunia nyata memang tak serenyah <em>crispy crunchy</em>-nya ayam Mc*. <em>Just face it: </em></p>
<p>1998: Oh, saya masih terlalu muda untuk menerima kenyataan bahwa Ortu saya adalah para akademisi orthodoks yang menyangkal semua karier di luar yang bisa dihasilkan dengan gelar akademis! Pendeknya: mereka tidak mau menandatangani surat persetujuan ortu yang menjadi syarat pendaftaran sekolah sepakbola. <em>The heartbreaking truth</em></p>
<p>2002: masuk tim utama di SMP saja sulit banget. Begh.<em> The unconvenient truth</em></p>
<p>2004: Cesc Fabregas mulai bermain reguler di tim senior Arsenal; Chris Ronaldo bermain untuk United memakai seragamnya no.7 yang pernah dipakai George Best, Eric Cantona, dan David Beckham! Pada usia yang sama, Taufik Nur Yahya sibuk mbolos sekolah demi main Winning Eleven.<em> The irritating truth</em></p>
<p>2006: Tanpa diperkuat Taufik Nur Yahya, Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2006! <em>The moment of truth</em> (haha)</p>
<p>Okay, Saya memang mungkin (pasti) bukan mantan-calon pemain sepakbola paling berbakat di negara ini. Andaipun Saya benar jadi pemain pro, belum tentu Saya jadi pemain timnas; andaipun Saya jadi pemain timnas, belum tentu Indonesia akan lolos ke Piala Dunia. Tapi poinku adalah: bagaimana jika ada seorang <em>anak Indonesia</em> yang bermimpi jadi pemain sepakbola profesional, yang lebih berbakat daripada Saya, lebih berbakat daripada Todi Adiyatmo, bahkan lebih berbakat daripada Rangga Aryayoga, bahkan yang bakatnya setara dengan Cesc atau CR 7 atau Leo Messi, yang akhirnya tidak jadi meniti karier di bidang sepakbola <em>et causa</em> ortunya tidak mau menandatangi surat pernyataan persetujuan?</p>
<p>Bagaimana mau memajukan persepakbolaan negeri ini jika masih saja ada <em>underestimating</em> dan celaan terhadap persepakbolaan nasional tanpa usaha untuk memperbaikinya? Jujur, Saya bosan dan muak dengan orang-orang yang mengagung-agungkan timnas negara lain atau klub sepakbola dari negara asing sekaligus mencela persepakbolaan dalam negeri tanpa langkah nyata untuk memperbaikinya! Tapi maaf, saya tidak mau ikut-ikutan mencela orang-orang yang mencela persepakbolaan nasional tersebut, saya tidak punya waktu. <em>Andaipun Saya punya waktu, akan saya gunakan untuk membangun persepakbolaan nasional</em>. Sekecil apapun kontribusi itu.</p>
<p>Itu dia.</p>
<p>Kenapa Saya tidak mencoba melakukan sesuatu untuk sepakbola di Tanah Air? Kita mulai dari menjawab pertanyaan pertama: kenapa orang tua sulit merelakan anaknya menjadi pemain sepakbola?</p>
<p>Karena ketidakjelasan prospek karier, yang semakin terlihat dari infrastruktur ala kadarnya di berbagai sekolah sepakbola yang ada. Maklum, sepakbola seperti itu sifatnya &#8220;pengabdian&#8221;, para pelatihnya pun menganggap karier mereka di situ sebagai sambilan. Perlengkapan ala kadarnya. Kurikulum yang tidak standar. Output dan prospek yang kurang jelas. Pengelolaannya pun kadang jauh dari <em>profesional</em>.</p>
<p><em>Profesional</em>? Oh, bagaimana jika ada <em> </em> sebuah akademi sepakbola yang dikelola secara <em>profesional</em>? Yang memiliki pelatih yang terstandar dan berdedikasi, yang memiliki baik koneksi dengan klub di dalam maupun di luar negeri sebagai salah satu opsi karier masa depan pemain, peralatan dan kurikulum yang <em>state of the art</em>? Bagaimana jika <em>ada </em>akademi sepakbola seperti itu di Jogjakarta? Bagaimana jika kita <em>membuatnya</em>? Hingga pada saatnya nanti, secara bertahap, berkesinambungan, tapi pasti, kualitas persepakbolaan nasional meningkat secara signifikan dan akhirnya lolos ke Putaran Final Piala Dunia.</p>
<p>Entah dengan Anda, tapi Saya masih punya mimpi menjadi <em>set-up</em> Tim Nasional Indonesia, dengan seragam Merah-putih serta logo Garuda di Dada. Jika bukan sebagai pemain, mungkin sebagai dokter tim. Bahkan, dalam kadar paling minimalpun, Saya rela: sebagai suporter yang nonton melalui televisi, atau sekedar mendengarkan siaran di radio. Indonesia lolos ke Putaran Final Piala Dunia adalah <em>impossible</em>?<em> Impossible is nothing, </em>kan hanya <em>tagline</em> iklan Adidas; dalam kehidupan nyata, ya <em>some things <strong>are</strong> impossible</em>, tapi beruntung sponsor apparel Tim Nasional kita bukan Adidas, tapi Nike. Jadi, <em>just do it</em>!</p>
<div id="attachment_78" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2011/06/garuda-di-dadaku.jpg"><img class="size-medium wp-image-78" title="garuda di dadaku" src="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2011/06/garuda-di-dadaku.jpg?w=300&#038;h=193" alt="" width="300" height="193" /></a><p class="wp-caption-text">Garuda di dadaku! Garuda kebanggaanku! Ku yakin sore ini, pasti menang!</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufiknuryahya.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufiknuryahya.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufiknuryahya.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufiknuryahya.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taufiknuryahya.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taufiknuryahya.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taufiknuryahya.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taufiknuryahya.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufiknuryahya.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufiknuryahya.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufiknuryahya.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufiknuryahya.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufiknuryahya.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufiknuryahya.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=76&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2011/06/18/yang-saya-ingin-piala-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/32acaa3a2ff6a3882ce8a519e0408230?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Taufik Nur Yahya, S. Ked</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2011/06/owen.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">owen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2011/06/garuda-di-dadaku.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">garuda di dadaku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>When I See You Smile</title>
		<link>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/when-i-see-you-smile/</link>
		<comments>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/when-i-see-you-smile/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 23:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taufik Nur Yahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufiknuryahya.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Wajah bapak muda itu tegang. Tangannya tremor ketika menandatangani informed consent untuk tindakan sectio secaria terhadap istrinya. Ya, kekasih hatinya tersebut telah berupaya sekuat yang dia bisa untuk melahirkan anak pertama mereka. Tapi apa daya, nihil hasilnya. Drip oxytocin 5 I.U. 12 tetes per menit gak mempan. Maka diputuskanlah tindakan SC. Tak perlu seorang psikolog [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=44&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wajah bapak muda itu tegang. Tangannya tremor ketika menandatangani informed consent untuk tindakan sectio secaria terhadap istrinya. Ya, kekasih hatinya tersebut telah berupaya sekuat yang dia bisa untuk melahirkan anak pertama mereka. Tapi apa daya, nihil hasilnya. Drip oxytocin 5 I.U. 12 tetes per menit gak mempan. Maka diputuskanlah tindakan SC.</p>
<p>Tak perlu seorang psikolog profesional untuk mengetahui apa yg dirasakan bapak itu; karena sudah sangat jelas terlihat dari air mukanya.</p>
<div id="attachment_81" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2010/05/ok.jpg"><img class="size-medium wp-image-81" title="OK" src="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2010/05/ok.jpg?w=300&#038;h=243" alt="" width="300" height="243" /></a><p class="wp-caption-text">Where the magic happens..</p></div>
<p>Aku bersama tim dokter pun segera mempersiapkan diri.. Ehm, baiklah ngaku, aku bukan operator utama yang adalah dokter spesialis obsgyn. Cuma koas. Peran di OK adalah asisten dari asisten dari operator utama. ^_^&#8217;</p>
<p>Satu jam berlalu. Bayi lahir dengan sehat; bayi perempuan. Ya pokoknya begitu bayi keluar, udah tanggung jawabnya perina lah. Setelah dibersihkan, si adek bayi diserahkan ke ayahnya. Nampak bersama ayahnya, ada wanita yg lebih tua. Neneknya, mungkin.</p>
<p>Kali ini wajah sang bapak muda jauh berbeda dibanding sekitar 70 menit yang lalu. Walau tidak ada perubahan struktur anatomis, kini wajahnya tampak lebih tampan. Jelas karena sudah lega. Plong..</p>
<p>Kemudian, dengan mesra dia membisikkan adzan di telinga kanan si adek dan iqomat di telinga kiri. -afwan untuk hal yang satu ini sebenarnya ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, ada yg menyatakan sunnah, ada yg tidak. Tapi bukan itu pokok bahasan kita. Kalau pengen cari kejelasannya, silakan mencari referensi yg kredibel-</p>
<p>Coba lihat lagi si adek bayi. Sekarang dia senyum-senyum. &#8220;Lihat, Bu. Dia senyum padaku!&#8221; Kata si bapak kepada sang nenek, yang langsung dibales, &#8220;Ah, enggak. Senyumnya ke aku, ko.&#8221;</p>
<p>Mungkin ini yang sedang tersenandung di hati sang bapak:<br />
When I see you smile,<br />
I see a ray of light<br />
I see it shining<br />
Right through the rain..</p>
<p>Hihihi.. Bapak ini sedang GR rupanya. Kalau ku katakan yang sebenarnya, bisa jadi dia tidak se sumringah saat ini. Katanya Pak Dokter India yang aku lupa namanya, di bukunya yg judulnya General Ophtalmology yang sampulnya warna putih dan di halaman depannya ada tulisan dgn huruf India yg tak bisa kubaca -tapi yang jelas bacanya bukan &#8216;kuch kuch hota hai&#8217;, atau &#8216;koi mil gaiya&#8217;, apalagi &#8216;my name is khan&#8217;- bahwa bayi yang baru lahir mengalami hipermetropi fisiologis sebesar +5 Dioptri. Jadi sebenarnya, si adek bayi ga bisa lihat bapaknya yang berjarak sekitar 30 cm didepannya dengan jelas. Mungkin secara idiopatik dia senyam-senyum sendiri. Gak usah GR deh, Pak. Hehe, tentu aku cukup bijak untuk tak mengatakannya ke si bapak.</p>
<p>Toh, tidak semua kebenaran harus diungkapkan. Ada beberapa hal yang memang lebih baik ditinggalkan apa adanya. Biarkan si bapak menikmati endorphine surge-nya. Ga usah diganggu dengan fakta yang memang berpotensi agak mengganggu salah satu hari terindah dalan hidupnya ini.</p>
<p>Hmm, bagaimana kalau aku berada diposisi si bapak? Aku akan melakukan hal yang sama; meski aku tau sebenarnya si adek bayi belum bisa melihat jelas, ketika dia senyum tetap aja akan kukatakan pada semua orang di VK:</p>
<p>&#8220;Hey, lihat. Putriku tengah senyum karenaku. Cantik kan senyumnya? Persis seperti ibunya.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufiknuryahya.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufiknuryahya.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufiknuryahya.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufiknuryahya.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taufiknuryahya.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taufiknuryahya.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taufiknuryahya.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taufiknuryahya.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufiknuryahya.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufiknuryahya.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufiknuryahya.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufiknuryahya.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufiknuryahya.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufiknuryahya.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=44&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/when-i-see-you-smile/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/32acaa3a2ff6a3882ce8a519e0408230?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Taufik Nur Yahya, S. Ked</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2010/05/ok.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">OK</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lompatan Quantum</title>
		<link>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/lompatan-quantum/</link>
		<comments>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/lompatan-quantum/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 23:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taufik Nur Yahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufiknuryahya.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Kawan, pernahkah kamu nonton dua kali untuk satu pilem yang sama di bioskop? Mungkin pernah, dan ada beberapa alasan atasnya. Mungkin kamu salah beli tiket, diajak temen, atau emang suka banget ma pilem tersebut. Nah, alasanku nonton pilem The Matrix: Reloaded sampai dua kali di bioskop (dan entah tak terhitung berapa kali di DVD dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=42&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kawan, pernahkah kamu nonton dua kali untuk satu pilem yang sama di bioskop? Mungkin pernah, dan ada beberapa alasan atasnya. Mungkin kamu salah beli tiket, diajak temen, atau emang suka banget ma pilem tersebut. Nah, alasanku nonton pilem The Matrix: Reloaded sampai dua kali di bioskop (dan entah tak terhitung berapa kali di DVD dan di TV) adalah karena alasan ketiga: suka banget, sejak pilem The Matrix pertama malah. Emh, aku punya hal menarik yang ingin kubagi denganmu di pilem The Matrix (Nonton dulu kalo blum pernah nonton, ya. FYI pilem ini diproduseri oleh Wachozsky Brothers, sama kaya yang memproduseri pilem Ninja Assasins, tapi The Matrix jauuuh lebih keren).</p>
<p>Pada satu adegan, Morpheus (kapten Nebuchadnezzar, diperankan oleh Laurence Fishburne) memberi tau Neo (diperankan Keanu Reeves) bahwa selama ini mereka besembunyi dari para ‘Agen’ yang menguasai The Matrix. Dia bercerita ada ramalan bahwa suatu ketika akan muncul sosok ‘The One’ –yang diyakini Morpheus bahwa sosok The One tersebut adalah Neo&#8211; yang dapat mengalahkan semua Agen dan membebaskan umat manusia dari ‘penjara’ Matrix.</p>
<p>Morpheus berkata, “I won’t lie to you, Neo. Every single man or woman who has stood their ground, everyone who has fought an agent has died… I’ve seen an agent punch through a concrete wall. Men have emptied entire clips at them and hit nothing but air. Yet their strength and their speed are still based in a world that is built on rules. Because of that, they will never be as strong or as fast as you can be.”</p>
<p>“What are you trying to tell me? That I can dodge bullets?” Tanya Neo</p>
<p>Morpheus menjawab, “No, Neo. I’m trying to tell you that when you’re ready, you won’t have to.”</p>
<div id="attachment_75" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2010/05/neo_reloaded.jpg"><img class="size-medium wp-image-75" title="Oh, yeah. I do stop the bullet." src="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2010/05/neo_reloaded.jpg?w=300&#038;h=181" alt="" width="300" height="181" /></a><p class="wp-caption-text">Oh, yeah. I do stop the bullet.</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hmm, cukup geje juga kata-kata Morpheus, “Ketika kamu udah siap, bahkan kamu ga perlu menghindari peluru..” Apa pula maksudnya ini? Hingga pada akhir pilem, ketika Neo nyaris mati ditembak para Agen, dia ingat pada perkataan Trinity (diperankan Carrie Ann Moss) bahwa ramalan memberitahu bahwa Trinity akan jatuh cinta pada The One. Karena Trinity jatuh cinta pada Neo, Neo berpikir bahwa dialah The One. Karena dia The One, maka dia ga akan mati ‘hanya’ oleh tembakan seperti itu. Karena dia The One, maka ‘hukum alam’ yang terprogram untuk mengatur The Matrix tidak berlaku untuknya. Dia menyadari hal tersebut, selanjutnya ketika para Agen menembaki dia, dia dapat menghentikan peluru-peluru tersebut dengan kekuatan pikirannya. Para Agen pun akhirnya dapat dia kalahkan dengan mudah. Waaa..</p>
<p>Nah, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian, inilah yang disebut sebagai QUANTUM LEAP, suatu lompatan yang mendadak dan kentara dari suatu keadaan ke keadaan lain. Di awal cerita, Neo sama sekali tidak percaya bahwa dia dapat menghindari peluru, tapi kemudian -jangankan menghindari- lha wong dia malah bisa menghentikan peluru dengan kekuatannya. Ada beberapa tahapan untuk mencapai level tersebut, tapi semuanya baru nampak dalam sebuah quantum leap. Ketika dia uda sampe ke level tersebut, dia tidak kemudian ‘turun’ ke keadaan awalnya.</p>
<p>OK, contoh diatas emang cukup lebay, secara dari pilem gitu loh. Mari kita ambil contoh quantum leap dalam dunia nyata:</p>
<p>Mari kita masuk ke laci meja belajar dan kembali ke tahun 1991.. Emh, bukan Perang Teluk yang akan kita bahas.. Pada hari itu, entah keberapa kalinya aku belajar naik sepeda, aku gagal sebanyak aku mencoba. Bagiku ketika itu, bisa menguasai kendaraan roda dua, menjaga keseimbangan, dan melaju dengan mulus adalah hal yang sangat keren –sekaligus mustahil. Tentu, aku belum bisa membedakan antara ‘sulit’ dan ‘mustahil’. Maksudku, tingkat kemustahilanku untuk bisa naik sepeda ketika itu adalah sama dengan tamasya terbang ke bulan dilanjutkan dengan menikmati musim semi di Jupiter dan Mars. Mustahil, kan? Makanya pada satu titik, aku menyerah. Menghentikan latihanku.</p>
<p>Yang tidak kuperhitungkan ketika itu adalah QUANTUM LEAP.</p>
<p>Karena melihat teman-temanku pada bisa naik sepeda roda dua dan main kesana kemari, aku jadi iri pada mereka. Demi Tuhan, dimataku mereka keren banget, dan sangat ga mungkin aku maen sepeda-sepedaan bareng mereka dengan mengendarai sepeda roda tiga –yang tanpa banyak cingcong kita pasti sepakat bahwa sepeda roda tiga sangatlah jauh dari definisi keren. Aku pun memutuskan untuk latihan lagi. Dibantu oleh Bapakku yang memegangi sepeda dari belakang, aku mengendarai sepeda. Ketika dipegangi, aku merasa aman dan ga takut jatuh. Hingga pada satu ketika, aku tanya suatu hal ke Bapak.. Loh ko ga dijawab? Ko sepertinya ga ada Bapak dibelakang? Ternyata bapakku melepaskan pegangannya, tanpa sepengetahuanku! Dengan kata lain: hey, aku naik sepeda tanpa dipegangin! Dengan kata lain: horeeee, aku bisa naik sepeda!</p>
<p>Quantum leap terjadi pada keadaan mental, bukan fisik. Hey, kamu ga bisa tiba-tiba mengangkat rumah, atau menahan napas selama setengah jam, atau berlari dengan kecepatan 100 km/jam, kan? Karena tubuhmu tunduk pada hukum-hukum alam yang berlaku. Karenanya, tubuhmu ga akan secepat atau sekuat pikiranmu.</p>
<p>Naik sepeda memang nampak sebagai aktivitas fisik, tapi sebenarnya yang lebih dominan dalam kegiatan ini adalah kemampuan mental daripada kemampuan fisik. Aku tidak menambah kekuatan kakiku mengayuh pedal atau akurasi tanganku ketika membelokkan setang. Tapi lebih seperti, aku memutuskan untuk belajar naik sepeda, seperti meng-klik saklar ON di otakku untuk bisa naik sepeda. Begitu aku akhirnya bisa naik sepeda, aku bahkan lupa alasan kenapa sebelumnya aku ga bisa naik sepeda.</p>
<p>Mungkin kita semua tanpa sadar juga mengalami quantum leap. Sejak bayi, ketika mulai belajar berjalan, atau ketika pertama kali masuk kuliah, atau pertama kali masuk koas. Banyak quantum leap yang terjadi secara alami. Bayi belajar berjalan karena instingnya seperti itu, dan mereka belum punya kenangan bahwa jatuh itu sakit, makanya belajar jalan aja ya tinggal jalan. Pas masuk koas, kita ya masuk koas aja, karena kaya’nya make jas putih itu keren (walaupun menderita). Dengan semua alasan, dari yang paling rasional sampe yang paling absurd, quantum leap terjadi.</p>
<p>Tapi tidak semua quantum leap terjadi begitu saja. Kalo pas kamu belajar jalan ato masuk koas, mungkin porsi yang berperan lebih besar adalah hal-hal alamiah dan anggapan wajar bahwa bayi itu ‘harus’ belajar jalan dan mahasiswa kedokteran itu ‘harus’ koas. Tapi pada beberapa hal lain, saklar ON quantum leap tersebut harus kamu klik sendiri. Hal-hal seperti: menjadi percaya diri, bertingkah laku baik, rajin menabung, berpola hidup sehat, sholat berjamaah di masjid, dan sebagainya. Pertanyaannya: bagaimana kamu secara sengaja bisa meng-klik saklar ON tersebut?</p>
<p>Yang harus disadari adalah bahwa perkembangan secara mental pribadi seseorang terjadi dalam suatu quantum leap. Mungkin kamu sudah berusaha untuk merubah atau memulai suatu hal tapi tidak nampak hasilnya. Itu tidak berarti bahwa usahamu tidak menghasilkan suatu peningkatan. Sesuatu sedang terjadi di otakmu, berupa penambahan sinaps-sinaps antara satu neuron dengan neuron yang lain; hanya saja hal tersebut belum termanifestasi secara nyata di dunia fisik. Pada titik tertentu usaha tersebut akan menghasilkan suatu klik ON pada saklar di otakmu dan kamu dapat melakukan suatu quantum leap. Ketika kamu sudah mencapai tahap itu, kamu mungkin akan merasakan bahwa proses klik tersebut relatif singkat &#8211;dan seolah tiba-tiba&#8211; dibandingkan dengan keseluruhan proses usahamu; tapi tanpa usahamu yang lama, konsisten, dan berdarah-darah (halah lebay) tersebut, momentum untuk meng-klik ON quantum leap tidak akan ada.</p>
<p>Perhatikan juga ini:<br />
Pada suhu 99˚C air terasa panas<br />
Pada suhu 100˚C air mendidih.<br />
Didihan air menghasilkan uap.<br />
Dengan uap, kamu dapat menggerakkan sebuah kereta api.<br />
Hey, satu derajat aja bisa membuat perbedaan yang sangat besar!</p>
<p>Jadi jangan menyerah ketika usahamu nampaknya tidak membuahkan hasil. Coba aja terus. Mungkin batas antara kita dengan quantum leap hanya satu derajat, atau bahkan kurang.<br />
Sahabat kita, Arai Sang Pemimpi tau betul konsep ini. Karenanya dia hanya memberikan opsi ‘tidak’ untuk menyerah dalam mendapatkan cinta Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum, sosok yang seumur hidup dia yakini sebagai bidadari jelmaan os costae-nya. Seperti yang dituturkan pada Ikal di novel Sang Pemimpi halaman 188:</p>
<p>“Nurmala adalah tembok yang kukuh Kal…,” kilahnya diplomatis.<br />
“Dan usahaku ibarat melempar lumpur ke tembok itu,” sambungnya optimis.<br />
“Kau sangka tembok itu akan roboh dengan lemparan lumpur?” tanyanya retoris.<br />
“Tidak akan! Tapi lumpur itu akan membekas disana. Apapun yang kulakukan, walaupun ditolaknya mentah-mentah, akan membekas dihatinya,” kesimpulannya filosofis.</p>
<p>Di novel Maryamah Karpov, kita semua akhirnya tau bahwa quantum leap itu memang terjadi: bidadari indifferent itu akhirnya membukakan pintu hatinya untuk Arai dan menerima lamarannya. Waktu yang dibutuhkan Arai hingga quantum leap ajaib itu terjadi: TUJUH tahun.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufiknuryahya.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufiknuryahya.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufiknuryahya.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufiknuryahya.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taufiknuryahya.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taufiknuryahya.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taufiknuryahya.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taufiknuryahya.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufiknuryahya.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufiknuryahya.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufiknuryahya.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufiknuryahya.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufiknuryahya.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufiknuryahya.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=42&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/lompatan-quantum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/32acaa3a2ff6a3882ce8a519e0408230?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Taufik Nur Yahya, S. Ked</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://taufiknuryahya.files.wordpress.com/2010/05/neo_reloaded.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Oh, yeah. I do stop the bullet.</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Disini Cinta Punya Hierarki</title>
		<link>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/disini-cinta-punya-hierarki/</link>
		<comments>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/disini-cinta-punya-hierarki/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 23:07:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taufik Nur Yahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufiknuryahya.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[&#8221; Tak bisa hatiku merapikan cinta Karena cinta tersirat bukan tersurat Meski bibirku terus berkata tidak Mataku terus pancarkan sinarnya..&#8221; Masih terngiang rasanya lagunya Zigaz diatas diputer di bus patas Efisiensi yang mengantarku dari Jogja ke Banyumas ketika stase bedah di sana beberapa pekan yangg lalu. Merapikan cinta? Benarkah sesulit itu? Well, mungkin memang sulit, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=35&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221; Tak bisa hatiku merapikan cinta<br />
Karena cinta tersirat bukan tersurat<br />
Meski bibirku terus berkata tidak<br />
Mataku terus pancarkan sinarnya..&#8221;</p>
<p>Masih terngiang rasanya lagunya Zigaz diatas diputer di bus patas Efisiensi yang mengantarku dari Jogja ke Banyumas ketika stase bedah di sana beberapa pekan yangg lalu. Merapikan cinta? Benarkah sesulit itu? Well, mungkin memang sulit, terkadang sangat sulit malah. Tapi ada kaedah dasar, yang bila kita telaah, dapat me-rekonsep cinta yang ujung-ujungnya dapat membantu kita dalam merapikan cinta. Kaedah tersebut adalah: disini cinta punya hirarki.</p>
<p>***</p>
<p>“Aku mencintaimu wahai Rasulullah melebihi cintaku pada semua yang lain, kecuali diriku sendiri.” Begitu Umar bin Khattab berkata pada Rasulullah saw. Ia hendak menyatakan cintanya pada Sang Rasul. Dengan caranya sendiri. Tapi ia tidak menduga kalau jawaban Sang Rasul justru berbeda sama sekali. Tidak! Wahai Umar! Sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri, jawab Rasulullah saw.</p>
<p>Itu ciri utamanya. Hirarki. Cinta berawal dan berujung pada satu dan hanya satu nama: Allah Subhanahu Wataala. Tapi Allah yang awal dan akhir dari semua cinta berkata pada Nabi dan kekasih-Nya, Muhammad SAW: “Katakanlah pada mereka, jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku.” Maka cinta pada Allah harus turun pada cinta kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW. Tapi cinta pada Muhammad SAW mengharuskan kita mencintai semua manusia yang telah beriman kepadanya, khususnya para anggota keluarga yang luhur dan sahabat-sahabatnya yang mulia, dan kepada semua generasi yang datang sesudah mereka dari pada tabiin dan pengikut para tabiin, serta siapapun yang mengikuti jalan hidup (manhaj) mereka dari kaum salaf bersama seluruh generasi mukmin hingga hari kiamat.</p>
<p>Cukup? Belum! Masih ada lagi. Cinta pada orang beriman yang mengharuskan kita mencintai semua &#8216;pekerjaan&#8217; yang mendekatkan kita pada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Jadi cinta pada Allah harus turun pada orang dan pekerjaan. Orang-orang itu terdiri dari Nabi dan semua orang beriman. Pekerjaan itu terdiri dari semua amal shaleh.</p>
<p>Begitu hirarkinya. Semua cinta kita yang lain hanya akan menjadi lurus kalau ia menyesuaikan diri dengan hirarki ini. Cinta pada istri-istri dan anak-anak dan sanak saudara dan handai taulan dan sahabat karib dan rumah-rumah dan mobil-mobil dan harta-harta dan semua hanya akan menjadi lurus jika ia berada dalam ruang besar yang bernama cinta pada Allah swt. Perasaan kita harus ditata dalam struktur cinta seperti itu.</p>
<p>Cinta adalah sebuah ruang besar tanpa batas. Semua cinta yang lain harus disusun secara proporsional dalam ruang besar itu. Tidak mudah, memang. Tapi ini lah sumber keharmonisan jiwa manusia. Hanya ketika emosi tertata secara apik dalam hararki cinta, kita menemukan pemaknaan yang hakiki terhadap semua aliran emosi kita yang lain. Persis seperti anak-anak sungai yang mengalir sendiri-sendiri: pada mulanya menyatu dihulu, lalu tampak berpencar ditengah, tapi kemudian bertemu lagi dimuara.</p>
<p>***</p>
<p>Yup. Menggunakan hirarki dalam merapikan cinta. Simpel kan?</p>
<p> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufiknuryahya.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufiknuryahya.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufiknuryahya.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufiknuryahya.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taufiknuryahya.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taufiknuryahya.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taufiknuryahya.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taufiknuryahya.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufiknuryahya.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufiknuryahya.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufiknuryahya.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufiknuryahya.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufiknuryahya.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufiknuryahya.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=35&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/disini-cinta-punya-hierarki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/32acaa3a2ff6a3882ce8a519e0408230?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Taufik Nur Yahya, S. Ked</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Verloskamer</title>
		<link>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/verloskamer/</link>
		<comments>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/verloskamer/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 23:06:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taufik Nur Yahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufiknuryahya.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Duabelas jam pertama di VK. Pelajaran hidup yg kudapat hari ini, ternyata labour atau giving birth atau melahirkan adalah suatu proses yang sangat luar biasa -yang dilakukan oleh orang yang luar biasa pula: ibu. Suatu proses yang dijadikan priviledge oleh Tuhan kepada kaum dg kromosom bergenotif XX. Suatu proses yang sangat berat yang mengharuskan pelakunya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=33&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Duabelas jam pertama di VK.</p>
<p>Pelajaran hidup yg kudapat hari ini, ternyata labour atau giving birth atau melahirkan adalah suatu proses yang sangat luar biasa -yang dilakukan oleh orang yang luar biasa pula: ibu.</p>
<p>Suatu proses yang dijadikan priviledge oleh Tuhan kepada kaum dg kromosom bergenotif XX.</p>
<p>Suatu proses yang sangat berat yang mengharuskan pelakunya menumpahkan tak hanya keringat dan air mata, tapi juga darah -ini secara konotasi maupun denotasi.</p>
<p>Luar biasa! Salut kepada semua ibu di seantero kolong langit ini.</p>
<p>Tiba-tiba jadi kepikiran..</p>
<p>Kelak, kalau bidadari yang diciptakan Tuhan sebagai jelmaan dari tulang rusukku itu menjalani proses ini, aku ingin selalu disampingnya. Dari kala I sampai kala IV. Kan kugenggam tangannya dgn tanganku; takkan kulepas. Apapun alasannya.</p>
<p>Kalau ada nyamuk nakal mendekat, kan kutepuk dgn tangan kiriku; sementara jemari tangan kananku masih mengisi ruang diantara jemarinya.</p>
<p>Kalau infusnya macet, juga akan kulancarkan alirannya dgn tangan kiriku.</p>
<p>Kalau ada yg SMS, kubales dgn mengetik pake tangan kiriku.</p>
<p>Kalau AC di ruang VK jatuh hendak menimpanya, akan kutepis.. Masih dgn tangan kiriku.</p>
<p>Pokoknya, tak kan kulepas genggamanku dgn alasan apapun!</p>
<p>Eh, tunggu sebentar. Sepertinya udah masuk waktu shalat. Kalau untuk urusan ini, &#8220;Maaf Sayang&#8221;, kataku padanya, &#8220;Demi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta seisinya, aku bersumpah bahwa aku mencintaimu, tapi cintaku padaNYA berada pada urutan paling superior dalam hirarki cintaku. Dan semua jenis cinta membutuhkan manifestasi, dalam konteks ini aku harus memenuhi panggilanNya. Berat memang melepaskan tanganmu dan meninggalkanmu sejenak, namun lebih berat konsekuensi meninggalkannya.&#8221;</p>
<p>Tapi tentu tanpa harus mengatakan semua itu, kekasihku sudah faham. Bahkan mungkin dia akan uring-uringan kalau aku gak sholat berjamaah di Mesjid -persis seperti ibuku.</p>
<p>Karena dia dan aku tidak ingin kisah kami hanya berakhir bersamaan dengan berakhirnya episode hidup kami di planet ini. Kami ingin roman kasih kami akhirnya juga bersambung di Alam Yang Tak Mengenal Akhir; dan hanya DIA yang dapat memutuskan akan demikian atau sebaliknya.</p>
<p>***</p>
<p>Sang Imam pun mengucapkan salam di penghujung rakaat terakhir.</p>
<p>Segera kutemui lagi cintaku, yang ketika itu kala II nya agak lama, maklum primigravida.</p>
<p>Kugenggam lagi tangannya, menyisipkan jemarinya di sela-sela jemariku. Kutatap erat matanya, kemudian kubisikkan dengan lembut:</p>
<p>&#8220;..Sayang, aku disini.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufiknuryahya.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufiknuryahya.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufiknuryahya.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufiknuryahya.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taufiknuryahya.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taufiknuryahya.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taufiknuryahya.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taufiknuryahya.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufiknuryahya.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufiknuryahya.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufiknuryahya.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufiknuryahya.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufiknuryahya.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufiknuryahya.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=33&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/verloskamer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/32acaa3a2ff6a3882ce8a519e0408230?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Taufik Nur Yahya, S. Ked</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Cuma Pengen Maen Bola</title>
		<link>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/aku-cuma-pengen-maen-bola/</link>
		<comments>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/aku-cuma-pengen-maen-bola/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 22:52:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taufik Nur Yahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/aku-cuma-pengen-maen-bola/</guid>
		<description><![CDATA[Pengen jadi striker Tapi finishingku kok gak tenang.. Pengen jadi winger Tapi sprintku biasa aja, jangan pula tanyakan dribblingku Pengen jadi playmaker, trequartista gitu.. Tapi passingku monoton dan mudah terbaca Pengen jadi holding midfielder Hosh hosh.. Stamina gak kuat! Pengen jadi full-back Tapi ketika timku diserang balik, kenapa aku keasyikan di depan? Pengen jadi centre [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=24&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengen jadi striker<br />
Tapi finishingku kok gak tenang..</p>
<p>Pengen jadi winger<br />
Tapi sprintku biasa aja, jangan pula tanyakan dribblingku</p>
<p>Pengen jadi playmaker, trequartista gitu..<br />
Tapi passingku monoton dan mudah terbaca</p>
<p>Pengen jadi holding midfielder<br />
Hosh hosh.. Stamina gak kuat!</p>
<p>Pengen jadi full-back<br />
Tapi ketika timku diserang balik, kenapa aku keasyikan di depan?</p>
<p>Pengen jadi centre back<br />
Weleh, markingku kedodoran!!</p>
<p>Akhirnya aku jadi kiper<br />
Seolah memang ini takdirku<br />
Seperti dalam susunan alam semesta ini, semua orang punya peran dalam kehidupan<br />
Pilih peran yang paling fit untukmu, kemudian berkontribusilah secara maksimal<br />
Di sepakbola, aku sudah melakukannya dan aku menikmatinya</p>
<p>Toh ada dua hal paling asyik dari menjadi kiper:</p>
<p>Satu, ketika melakukan suatu penyelamatan, kemudian ada teman yang bilang, &#8220;Penyelamatan bagus, Pik!&#8221;</p>
<p>Dua, melihat ekspresi striker lawan yang frustasi, dan aku berkata dalam hati, &#8220;Oh, cuma segitu kemampuanmu?&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufiknuryahya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufiknuryahya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufiknuryahya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufiknuryahya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taufiknuryahya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taufiknuryahya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taufiknuryahya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taufiknuryahya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufiknuryahya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufiknuryahya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufiknuryahya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufiknuryahya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufiknuryahya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufiknuryahya.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufiknuryahya.wordpress.com&amp;blog=4300744&amp;post=24&amp;subd=taufiknuryahya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufiknuryahya.wordpress.com/2010/05/05/aku-cuma-pengen-maen-bola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/32acaa3a2ff6a3882ce8a519e0408230?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Taufik Nur Yahya, S. Ked</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
